Busur Panah Patah

RSS

Posts tagged with "alor"

Memvisum Visum

Di Rabu pagi yang cerah, tanggal 26 September 2012 jam 08.00 WITA, saya sudah siap untuk pergi ke puskesmas. Biasanya, Rabu adalah hari yang sibuk, karena di Moru ada ‘pasar’, dimana warga di sekitar Moru berbondong-bondong melakukan kegiatan jual-beli di pasar dan ‘sekalian’ periksa kesehatan di puskesmas. Perasaan saya ringan dan ingin waktu cepat berlalu, agar segera pulang ke rumah dinas dan melanjutkan menonton serial Korea yang belum tamat (tetep).

Ruang poli umum baru saja dipel. Lantainya masih basah. Saya dan dua orang sejawat menunggu di sebuah kursi panjang di depan poli umum. Dan mengobrol tentang pempek kentang yang kami buat sebelum berangkat ke puskesmas.

Lalu salah seorang staf puskesmas datang. Wajahnya cemas dan tegang, duduk di depanku, “Ibu Dokter, bapak yang pernah divisum protes karena di kesimpulan visum et repertum yang Ibu Dokter buat, tertulis tidak didapatkan tanda-tanda kekerasan.” Pagiku mendadak kelabu. Berurusan dengan apapun yang berembel-embel polisi biasanya tidak menyenangkan. Tuhan… Apa lagi ini…

Dengan jantung yang dag-dig-dug saya berjalan ke kantor, menemui bapak yang protes itu. Saya sedang mendapati dia sedang menjelaskan panjang lebar kepada Ibu Kepala Puskesmas (Kapus). Bapak itu dan Ibu Kapus menolehkan kepala, memandang saya. Saya tersenyum getir. Mengucapkan salam, lalu duduk di hadapan bapak itu, “Ada masalah apa, Pak?”

“Saya kemarin datang ke kantor polisi. Polisi bilang, surat visum sudah diambil kemarin. Dan hasilnya tidak ada tanda-tanda kekerasan. Bagaimana bisa kesimpulannya seperti itu?” kata bapak itu dengan emosi.

Sejenak, aku mengernyitkan dahi. Mengingat-ingat kapan bapak ini datang ke puskesmas untuk dilakukan pemeriksaan. Saya meminta staf untuk membawakan status dan surat permohonan visumnya. Kejadian pelemparan batu terjadi tanggal 30 Juli 2012. Surat visum tertanggal 2 Agustus 2012. Dan korban datang ke puskesmas tanggal 4 Agustus 2012. Saat datang, tidak didapatkan tanda radang akut berupa bengkak, kemerahan, panas, atau luka terbuka. Hanya ada nyeri tekan dan penurunan ruang gerak jari-jari tangan. Bisa jadi, tanda radang akut itu sudah hilang mengingat saya memeriksa kondisi pasien hampir seminggu setelah kejadian.

“Lalu Bapak berharap saya menulis kesimpulan seperti apa?” tanya saya.

“Pokoknya tulis tanda-tanda kekerasan!”

“Meskipun saya harus berbohong?”

“Lalu Ibu Dokter pikir saya berbohong?”

Saya menghela napas. Pagi ini pasti akan terjadi debat kusir, “Bapak, saya akan jelaskan, dengan catatan bapak jangan memotong omongan saya.” Pelan-pelan saya mencoba menahan diri untuk tidak terpancing. Menarik nafas dalam agar suara tidak bergetar. Meski jari-jari rasanya sudah mati rasa.

“Pertama. Saya menyayangkan bapak tidak langsung datang ke kantor polisi untuk meminta surat permintaan visum. Bapak melapor ke polisi empat hari setelah kejadian. Dimana tentunya tanda-tanda kekerasan sudah mulai menghilang.”

“Kedua. Saya menyayangkan bapak tidak segera melakukan pemeriksaan visum ke puskesmas. Pemeriksaan terhadap bapak, saya lakukan enam hari setelah kejadian. Sekali lagi, tanda objektif kekerasan sudah hilang.”

“Tangan saya sakit sekali, sehingga tidak bisa datang ke puskesmas,” sela bapak tadi.

Saya tersenyum dan memandang bapak itu dengan lekat, “Jika bapak menganggap tuntutan terhadap tindak kekerasan ini penting, maka separah apapun bapak pasti sudah melapor. Dan pada saat itu, saya yakin bapak mampu berjalan, karena yang terkena lemparan batu hanya punggung tangan bagian kiri dan tidak parah apalagi mengalami luka terbuka. Dan sekali lagi, mohon… jangan memotong omongan saya.”

Suasana hening sejenak. Mulut saya mulai kering. Kepala puskesmas memandang saya dengan wajah penuh kekhawatiran. Dan sepertinya suara saya sudah mulai bergetar.

“Ketiga. Pada saat saya memeriksa bapak, saya menjelaskan bahwa tanda-tanda kekerasan sudah hilang. Saya juga sudah menjelaskan bahwa saya tidak bisa menulis keluhan subyektif berdasarkan cerita bapak. Jika pada saat itu saya tidak melihat bengkak, kemerahan, atau meraba panas pada kulit bapak, jelas saya tidak bisa menuliskan dalam laporan. Karena saya tidak bisa berbohong. Bapak adalah orang yang beragama. Tentu paham hal ini.”

“Tapi tangan saya masih sakit. Apa Ibu tidak bisa percaya?”

“Saya percaya. Tapi sakit adalah keluhan subyektif. Dan saya tidak bisa menuliskan data subyektif pada visum. Tetapi saya telah menuliskan bahwa telah terjadi penurunan Range of Motion pada tangan Bapak. Masalah apakah polisi membuatnya sebagai bahan pertimbangan atau tidak, itu di luar kekuasaan saya.”

“Saya bisa ajukan ini ke media massa agar semua masyarakat Alor bisa tau,” nada bicara bapak itu mulai meninggi.

Wajah-wajah di ruang kantor semakin cemas. Jujur, saya jengah dan sedikit gentar mendengar kalimat bapak ini. Tetapi bagaimanapun, saya merasa bahwa tindakan saya benar, “Silakan. Saya punya saksi dan bisa mempertanggungjawabkan apa yang saya tulis.”

“Saya ini punya jabatan. Saya adalah advokat yang disumpah,” kata bapak itu dengan setengah berteriak. Aduh. Tolong. Pitch controlnya, Pak.

Tetapi tipikal pejabat di wilayah Alor memang ingin dinomorsatukan. Beberapa bahkan cenderung semaunya sendiri dan bisa berbuat nekat. Kepala saya sudah mulai mendidih, tangan mengepal. Tapi saya berusaha tetap merendahkan suara. ‘Kalo situ pejabat trus kenapa? Apa saya harus membuat laporan visum ulang? Lu gila?’ Tidak. Kalimat ini tidak terlontar keluar. Dalam hati saja. Bisa-bisa saya dituduh melakukan tindakan yang tidak menyenangkan *sigh*. Konyol rasanya jika pagi-pagi sudah adu mulut dengan seorang bapak-bapak yang gila jabatan. Gengsi saya merangkak naik, mengingatkan diri sendiri, jangan sampai merendahkan diri ke titik yang sama dengan bapak itu karena terbawa emosi.

“Saya juga punya sumpah yang harus saya pegang. Dan bapak perlu tau, saya melayani masyarakat tidak memandang status atau jabatannya,” nafas saya mulai memburu. Suhu tubuh saya mulai meningkat. Perut mulai mulas, jantung berdebar kencang seperti habis latihan kardio selama 30 menit.

Mungkin, mental blind spot bapak itu sudah terlalu luas. Dia menyangkal, merepresi dan merasionalisasi tindakannya sendiri sehingga gagal melihat kebenaran dan kenyataan. Dia berbohong pada dirinya, memosisikan dirinya sebagai korban tanpa mau mengerti dimana letak titik masalahnya. Malah berkuliah tentang pentingnya posisi pekerjaannya di Alor, menbawa-bawa jabatan dan gelar. Atau yang lebih penting bagi dirinya adalah bahwa kasus kekerasan yang dialaminya harus dimenangkan olehnya, bukan lagi benar atau tidak proses yang dilalui. Beginilah jika seseorang terlalu terfokus pada hasil dan mengabaikan proses. Ancur minaaa!

Lalu Ibu Kapus berkata, “Bapak seharusnya bisa paham, semua profesi ada sumpahnya. Saya bukan membela Ibu dokter, tapi apa yang Ibu dokter lakukan sudah benar. Apa yang Ibu dokter tulis itu sesuai yang Ibu dokter lihat. Mengenai penyelesaian masalah bapak dengan orang yang melempar batu dua bulan lalu, coba selesaikan dengan polisi.”

Setengah kesal saya melirik jam di dinding, 09.00 WITA. Debat kusir ini rasanya sudah membuang-buang waktu. Tetapi cukup berguna sebagai pengalaman. Saya pernah mendengar cerita yang lebih absurd dari ini (berhubungan dengan visum). Seorang sejawat PTT di Alor, mengalami teror dari oknum kepolisian karena keterangan yang ada di visum tidak dibuat tepat setelah kejadian perkara. Tetapi sesuai dengan tanggal datangnya surat permintaan visum et repertum (SPVR). Polisi mengatakan bahwa dokter harus menulis sesuai kejadian, bukan datangnya SPVR. Padahal, SPVR dan korban datang pada dokter beberapa hari setelah kejadian. Semua orang tahu siapa yang salah. Apalagi alasan keterlambatan pembuatan SPVR adalah printer yang rusak. Kadang-kadang sesuatu yang sebenarnya mudah untuk dimasukkan ke akal menjadi begitu sulit hanya karena keegoisan seseorang/oknum.

“Saya rasa penjelasan saya dan Ibu Kapus sudah cukup. Saya mohon maaf jika bapak tidak puas. Tapi mohon masalah ini dipahami baik-baik. Bapak adalah advokat, tentu paham tentang hukum, tentu bisa memahami hal seremeh ini. Jika sudah tidak ada yang dibicarakan, saya pamit mau ke poli. Sudah banyak pasien yang menunggu.”

Tanpa persetujuan, saya berdiri dari kursi plastik berwarna hijau, lalu menghampiri si bapak tadi dan menyalaminya, “Dan semoga tangan yang masih sakit itu cepat sembuh. Jika berkenan, silakan mampir ke poli untuk saya periksa lagi. Permisi.” Lalu saya melenggang keluar kantor dengan hati masih marah, berjalan dengan langkah yang ditegap-tegapkan ke arah poli umum.

Saya kembali mengingatkan diri sendiri dan siapapun yang membaca postingan ini, bahwa kelengkapan status dan tulis-menulis itu SANGAT penting. Sekali lagi, SANGAT PENTING. Terutama pada kasus yang rawan seperti ini, dan di lingkungan yang cenderung ‘semaunya sendiri’. Mintalah perawat atau bidan menemani kita saat pemeriksaan dan pembuatan visum et repertum agar ada saksi tentang apa yang kita periksa dan laporkan.

Dan hari Jumat, 14 Desember 2012 lalu, saya menerima permintaan visum et repertum perihal kekerasan terhadap seorang anak perempuan yang pingsan akibat ditampar dan dipukul kepalanya oleh guru olah raga di sekolahnya. Alamak. Tidak bisakah warga Alor dan sekitarnya ini berhenti menggunakan adu fisik untuk menyalurkan emosi? *no hope*

***

Kalabahi – Alor – NTT

December 15th 2012

Dec 6

06 Desember 2012

Moru diguyur hujan. Deras. Sama sekali tidak menyisakan ruang bagi suara. Hanya ada tumpahan air dari langit yang menghujam bumi. Angin pengiring hujan berusaha mengobrak-abrik segala hal yang ditemuinya. Sesekali jantungku ikut berdesir. Aku merindukan hujan, tetapi tidak dengan badai. Ini sama saja dengan rasa yang terpendam pada kekasih, dan akhirnya meringkuk sendiri karena rupanya ia datang bersama seseorang yang mendampingi

Seharusnya, suasana sendu seperti ini sanggup membuaiku dalam tidur yang nyaman. Bergumul di dalam selimut yang tipis, sekedar syarat untuk menambahkan nuansa syahdu tidur di kala hujan. Mengetik beberapa tweet hingga akhirnya tertidur sampai Ashar.

Namun sebuah pesan menerobos masuk ke ponselku. Bapak. Mengabarkan bahwa surat dan beberapa foto yang kukirim telah diterima dengan selamat. Bibirku menyunggingkan senyum. Perasaan yang merambat ke tubuhku ini susah dijabarkan. Bahwa betapa surat yang sederhana bisa meletupkan banyak hal. Rasa deg-degan, apakah surat itu sampai dengan selamat, mengira-ngira bagaimana perasaan bapak dan ibu saat membaca surat dan melihat foto-foto yang kukirimkan. Dan aku juga yakin, rasa deg-degan itu juga melompat-lompat di hati mereka ketika membuka amplop dan membaca surat yang tertulis di sana.

Menjaga romantisme, begitu kata bapak. Seringkali kutanggapi dengan, “Ah, romantis dan kere beda tipis!” Dan bapak tertawa mendengar responku sebagai tanda setuju. Mengapa memilih surat? Bukankah itu kuno sekali? Sederhana saja. Orang tuaku tidak tahu-menahu tentang internet dan sebagainya. Menerima MMS  juga tidak pernah. Selama ini aku hanya mengabari via suara. Maka aku mengirimkan beberapa surat dan foto sebagai pemuas mata dan hati orang tua bahwa anak perempuannya di rantau baik-baik saja.

Dan siang ini, hujan berhasil menari-nari di atas rinduku yang menggebu. Sudah tiga hari aku memimpikan hal yang sama. Berjalan-jalan dengan ibu dan bapak. Bertiga saja. Aku dan bapak bergantian menyetir mobil, sedangkan ibu sibuk mengupas buah untuk kami. Sesekali aku merebahkan diri di pangkuan ibu di bangku belakang saat bapak menyetir. Menikmati belaiannya di kepalaku yang tertutup jilbab. Bercerita apa saja. Atau sekedar membahas arti lagu Korea dan India yang mengalun dari dek musik.

Sehari yang lalu, aku menelepon kedua orang tuaku. Mendengar suara mereka lalu kupindai hingga masuk ke dalam mimpi. Memuaskan rindu yang justru membumbung tinggi hingga ke ubun-ubun. Bapak bercerita tentang pembangunan masjid yang hampir rampung. Dan menceritakan tentang tiga kelinci dewasa yang akhirnya dijual, menyisakan delapan anak kelinci yang sudah bisa makan sendiri tanpa susu ibunya. Ibu bercerita tentang pasien ibu bersalin yang sempat drop tekanan darahnya. Beliau sempat panik dan cemas kondisi pasiennya tidak segera membaik. Aku bisa merasakan kekhawatiran Ibu. Dalam usia yang sudah melewati setengah abad, tentu saja kondisi Ibu tidak seprima dulu. Berkali-kali aku mengingatkan untuk segera beristirahat agar tekanan darah Ibu tidak naik lagi.

Perlahan-lahan, rasa rindu menyergapku dari segala sudut. Sembilan puluh dua hari sejak pertemuan terakhir, rasanya tanganku sudah meraung-raung untuk segera merengkuhkan pelukan pada tubuh mereka. Kepalaku kembali memutar percakapan konyol kami, bersama gelas kopi atau teh yang mengepul, sepiring pisang goreng, dan acara TV yang selalu bisa dikomentari. Aku menahan tanganku untuk menekan tombol nomor rumah. Karena mendengarkan suara mereka di suasana yang sendu ini, sangat berbahaya bagi pertahananku siang ini.

From: AaPapi

Foto dan surat sudah diterima, Non. Foto-fotonya bagus.

Received: Dec 6, 12:30

To: AaPapi

Alhamdulillah suratnya sudah sampai. Tulisannya terbaca jelas tho, Pak?

Sent: Dec 6, 12:40

From: AaPapi

Jelas banget, Non. Tapi sudah mulai mirip tulisan dokter. Sudah mulai jelek.

Received: Dec 6, 13:10

Hujan deras di luar sana. Airnya merembes hingga mataku basah. Dan kini, hatiku telah habis dibanjiri rindu.

***

115 hari menjelang kepulangan

Moru – Alor – NTT

Dec 2
Senja dari desa Takpala, Alor, Nusa Tenggara Timur

Senja dari desa Takpala, Alor, Nusa Tenggara Timur

Wolang - Alor - Nusa Tenggara Timur

Wolang - Alor - Nusa Tenggara Timur

Dari pantai Moru

Dari pantai Moru

Now the sun is in the sky. And for no reason why, the sad cloud is crying itself away.

Now the sun is in the sky. And for no reason why, the sad cloud is crying itself away.

Perjalanan Awal Tahun (Tamat)

Sabtu, 17 November 2012

Saya dan yang lain bangun cukup siang. Dan tentu saja, rasanya badan ini remuk redam. Susah berdiri, susah duduk. Pantat kram, punggung kaku.

Setelah mandi, kami segera ke restoran untuk sarapan. Anin membaca lini masa Twitter. @tika_widz menanggapi tweet @Rizki__MD yang membahas menu sarapan hotel Palm. @tika_widz berkata, bahwa biasanya menu sarapan jika tidak nasi goreng, mereka menyajikan daging rusa. Wow. Kami sedikit berharap menu hari ini adalah daging rusa.

Sesampainya di restoran, rupanya Aludin sudah datang. Kondisi pamannya masih tetap sama. Membutuhkan operasi untuk memperbaiki anus dan kandung kemihnya yang dicabik gigi buaya beberapa minggu lalu.

Baiklah. Menu sarapan pagi ini adalah soto ayam ditambah telur yang hanya separuh. Mungkin emak ayam pernah menelan silet yang tertahan di pantat sehingga telurnya keluar langsung terbelah dua. Tapi soto itu lumayan enak. Saya bahkan tidak bisa membedakan antara rasanya yang benar-benar enak atau saya yang sangat kelaparan.

Di meja makan, kami membahas tentang rencana hari ini. Pokoknya, sebelum dhuhur harus sudah keluar dari Lewoleba. Beristirahat di Lewolein, kemudian lanjut ke Wairiang.

Kami berencana ke pantai Waijarang. Awalnya kami menjadwalkan berangkat ke Waijarang sekitar jam delapan pagi. Kemudian kembali ke hotel sebelum jam dua belas siang. Menurut informasi Aludin, Waijarang letaknya dekat. Hanya 3 KM. Tapi kami tidak serta merta percaya. Karena sekali lagi, orang NTT tidak pandai menghitung jarak dan waktu. Maka pagi itu juga, kami check out dari hotel, ke Waijarang, lalu pulang ke Wairiang.

Menurut Wikipedia, Waijarang merupakan salah satu tempat wisata unggulan Lembata (http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Lembata). Lokasinya tidak terlalu sulit untuk dicari. Dari Hotel Palm, bertemu pasar, maka beloklah ke kiri. Ikuti jalan. Menurut http://www.floresbangkit.com/2012/03/indahnya-pantai-wisata-waijarang-lembata/ kondisi fisik jalan menuju Waijarang sudah bagus. Harap jangan berharap banyak. Karena bagaimanapun, pantat saya masih sering dihantam-hantamkan ke bangku motor. Tetapi kali ini, orang NTT tidak salah dalam menghitung jarak. Tiga kilometer.

Namun entah kenapa, ada saja yang membuat kami mengguling-gulingkan bola mata (apa bahasa yang pas untuk rolling eyes?). Di Lewoleba, Aludin tetap menjadi pemandu kami. Dia mengaku sering ke Lewoleba, tetapi tidak pernah ke Waijarang. Beberapa kali kami bertanya pada penduduk yang ada di sana mengenai lokasi Waijarang. Semua berkata, “Teruuus…”

Sampai pada akhirnya kami bertemu dengan dua pria yang tampaknya lebih meyakinkan. “Paman, tempat piknik ada dimana?” tanya Aludin.

“Tempat piknik apa?” paman yang ditanya malah balik bertanya. Saya menjawab, “Waijarang.”

“Su lewat, Nona…”

(hening)

Setelah mengucapkan terima kasih, kami putar balik. Tetapi tetap ada sedikit kejanggalan. Karena sepertinya tidak ada tanda atau pintu masuk atau apapun yang menunjukkan tempat bernama pantai Waijarang ini.

Akhirnya kami sampai di sebuah perumahan penduduk. Desa Waijarang. Tapi pantainya masih terus ke atas. Jika perjalanan kami dijadikan kartun, maka saat ini kami berenam sudah terjengkang. Lalu lewat seekor burung gagak yang suaranya sangat menyebalkan.

Ternyata pantai Waijarang memang tidak terlalu jauh. Tetapi pedih rasanya melihat tempat rekreasi tersebut tidak terawat sama sekali. Gerbangnya hampir roboh, pantainya kotor, dan tidak ada penjaga sama sekali. Saat itu, air laut sedang surut. Sehingga tampak karang yang tidak terlalu bagus. Dibandingkan dengan pantai-pantai di Alor, Waijarang ini jauh sekali nilainya.

Tiba-tiba Dedy berkata bahwa ada kebutuhan biologis yang harus dipenuhi. Maka dia dan Aludin pergi entah kemana (mungkin menumpang di salah satu rumah penduduk). Sedangkan saya, Maretha, Rizki dan Anin tetap di Waijarang.

Iseng-iseng, saya mengirimkan foto Waijarang ke rekan residen yang pernah bertugas di Lembata. Saya beri deskripsi, “Lautnya surut. Jelek nih…”

Dan balasannya adalah, “Wah… kamu ada di tempat yang salah, Noy. Untuk dapat view yang bagus, harus naik lagi. Naik teruuus. Terus lagiii… Coba besok datang jam empat pagi biar bisa lihat sunsetnya.”

(hening)

AAAK! Kenapa baru bilang sekarang? *tendang si residen*

Ya sudahlah… Kapan-kapan ke sana lagi. Lagipula, menurut keterangan @tika_widz, laut Waijarang banyak buayanya.

Sekitar jam sepuluh pagi, Dedy dan Aludin datang dengan membawa kelapa muda. Segar! Tapi masalah bertambah. Dedy tidak jadi buang hajat, dan saya sudah tidak tahan untuk buang air kecil. Akhirnya kami sepakat menuju hotel dan menumpang buang air di sana. Kemudian jalan pulang. Saya sudah kehilangan minat mencari alas kaki yang lebih layak untuk digunakan ke acara resepsi di Wairiang. Biar sudah sandal jepit saja. Anggap saja saya ini pelancong yang tidak ada persiapan (padahal dalam hati dilema).

Kami meninggalkan Lewoleba sekitar jam setengah dua belas siang. Sekitar jam satu kami sampai di Lewolein. Beristirahat dan makan siang (tidak lupa main kartu). Nafsu bermain poker saya menghilang. Rasanya ingin rebahan sebentar saja. Rupanya saya mulai kehilangan kemampuan menghitung waktu. Karena ternyata saya terbangun pada jam setengah tiga sore. Setelah mengucapkan selamat tinggal untuk dua hari ke depan via Twitter dan status BBM, kami melanjutkan perjalanan ke Wairiang yang tidak terjamah sinyal.

Sesampai di persimpangan Balauring, Aludin mengajak kami untuk melewati jalan yang berbeda dari jalan berangkat kemarin. Lewat pesisir. Katanya, kondisi jalan di pesisir lebih baik. Jujur, saya tidak berharap ‘lebih baik’ ini adalah suatu pernyataan yang memiliki perbedaan signifikan.

Kondisi jalan memang lebih baik. Dalam artian lebih sedikit aspal yang terlepas. Namun pemandangan pesisir begitu indah. Setidaknya mata saya dimanjakan meskipun pantat dan tulang belakang sangat tersiksa.

Sekitar sejam perjalanan, kami menghadapi kerumunan manusia di sebelah mesin pengebor batu yang sangat besar dan bising. Oke. Apakah itu artinya kami harus jalan memutar? Melihat rombongan motor yang hendak lewat, kerumunan manusia itu tidak ada inisiatif untuk memberi jalan. Sama sekali. Dalam kondisi lelah dan penat, rasanya ingin meledak saja. Apalagi telinga seakan mengalami Noise Induced Hearing Loss mendengar suara gemuruh batu yang dibor.

Saya harus turun dan berjalan kaki. Karena sangat berisiko melewati jalan setapak itu berdua. Samping kanan kami adalah mesin pengebor yang mengerikan. Dan samping kiri kami adalah jurang yang langsung menghadap ke laut.

Setelah melewati jalan tersebut dengan selamat, kami melanjutkan perjalanan. Beberapa kali Aludin menawarkan untuk berhenti dan berfoto. Tetapi saya sangat ingin bertemu dengan air dan kasur. Sudah. Teruskan saja perjalanan pulang ini.

Sekitar jam setengah lima sore, kami sampai di Wairiang dengan selamat. Nafas memanas karena ditempa debu dan udara yang membakar sepanjang jalan. Tenggorokan begitu kering. Mungkin saat itu saya bisa menghabiskan seliter air putih.

Kami segera meletakkan ransel dan menuju kamar mandi, berharap ada air yang bisa digunakan untuk mandi. Percuma. Hanya cukup untuk berwudhu saja. *sigh*

Beginilah perjalanan tiga hari yang cukup panjang jika diceritakan. Di Wairiang, kegiatan kami hanya sebatas makan, mandi (jika ada air), sholat, main kartu, makan, cari sinyal untuk sekedar sms, ngobrol dengan calon pengantin perempuan (yang saking stressnya mengalami dyspepsia syndrome), main kartu, makan, mandi (jika ada air), dan sebagainya.

Senin 19 November 2012 jam 15.00 WITA, kami kembali ke Baranusa. Masih dengan kapal Bintang Diana. Kami lebih banyak istirahat dan tidur di atas kapal. Tanpa tahu bahwa malam harinya kami disiksa sakit perut dan diare yang membabi buta. Rupanya sarapan kami bermasalah. Menu resepsi di Minggu malam yang disajikan kembali membuat kami menderita Traveller’s diarhea.

Saya dan Maretha sempat was-was karena Selasa pagi kami harus kembali ke Kalabahi dengan menunggangi (lagi) Bintang Diana selama sekitar tiga jam. Tapi beruntung perut kami tidak berulah selama perjalanan. Dan lagi-lagi, kami disuguhi atraksi lumba-lumba yang begitu genit di tengah laut.

Demikian cerita perjalanan awal tahun Hijriyah yang cukup mengesankan. Jika ditanya apakah saya berniat kembali ke Lembata, jawabannya adalah, “Mungkin.” Menurut keterangan calon pengantin perempuan di Sabtu malam, bupati Lembata sedang membenahi fasilitas jalan utama untuk mempermudah akses dari daerah satu ke daerah lain. Mungkin jika kondisi jalan Lembata sudah lebih baik, mungkin jika ada kesempatan, mungkin jika teman perjalanannya menyenangkan, mungkin saya akan kembali.

(habis)

***

Kalabahi – Alor – NTT

November 23rd 2012

Kendaraan perang untuk pusling ♥

Kendaraan perang untuk pusling ♥

Look what you’ve done… to my teeth [mama dukun setelah mengunyah sirih pinang]

Look what you’ve done… to my teeth [mama dukun setelah mengunyah sirih pinang]

Sirih pinang. Anyone?

Sirih pinang. Anyone?

Anak bule KW nih… [masih di Hopter]

Anak bule KW nih… [masih di Hopter]

Let the sky fall, when it crumbles. We will stand tall and face it all together ♥ [Hopter, Kec. Abad, Alor Barat Daya]

Let the sky fall, when it crumbles. We will stand tall and face it all together ♥ [Hopter, Kec. Abad, Alor Barat Daya]

Aku ndak pake celanaaa! [Probur, Kec. Abad, Alor Barat Daya]

Aku ndak pake celanaaa! [Probur, Kec. Abad, Alor Barat Daya]

Perjalanan Awal Tahun (Bagian Kedua)

Jumat, 16 November 2012.

Kami bangun pagi-pagi sekali. Memasuki kamar mandi secara bergantian, lalu sarapan. Dari rumah dinas Baranusa yang berjarak sekitar dua kilometer dari pelabuhan, kami menggunakan jasa ojek. Dua ribu rupiah. Sesampainya di pelabuhan, kami melihat Bintang Diana sudah siap berlayar lagi. Saya dan rekan-rekan sepakat untuk menempati dek atas karena tidak terlalu panas dan goyangan kapal saat ada gelombang tidak terlalu terasa (ini tips juga untuk yang sering mabuk laut. Jangan lupa minum Antimo bila perlu).

Sesampainya di dek atas, ada seorang lelaki usia paruh baya sedang bermain kartu dengan dua anak kecil. Rupanya lelaki itu adalah salah satu warga Kabir yang juga ikut ke Wairiang, “Wah, ibu dok ju ikut ke Wairiang ooo… Su tidak pernah terlihat di Kabir, Ibu?” Saya berusaha dengan cukup keras mengingat wajah bapak ini. Tapi karena malu mengakui bahwa saya lupa, saya tersenyum dan menjelaskan bahwa sekarang saya sudah bertugas di Moru.

Bapak tadi menjelaskan pada penumpang dewasa lain yang sedang duduk santai, “Ibu dok ini jadi saksi kejadian nona yang lompat dari kapal saat berlayar dari Kalabahi ke Kabir.” Nah. Baru saya ingat. Bapak ini duduk tepat di sebelah saya kala itu. Dia sempat akan menceburkan diri ke laut demi menolong si nona nekat sebelum akhirnya seorang lelaki yang duduk di deretan kursi lebih depan lebih dulu menangkap si nona.

Seperti yang sudah diduga sebelumnya, keberangkatan ke Wairiang molor. Keluarga juragan kapal belum seluruhnya sampai di pelabuhan. Lalu pandangan kami tertuju pada seekor sapi besar berwarna coklat yang mukanya ditutupi berlembar-lembar kertas kardus. Sapi itu ditarik oleh sekitar tiga pria berbadan besar dan digiring ke dalam kapal. Kami berpandangan. Saling melemparkan wajah penasaran, bagaimana kira-kira posisi sapi itu saat di kapal.

Saya dan rekan-rekan mengambil tempat. Dan kembali kami menikmati perjalanan sambil bermain kartu. Sesekali kami diributkan oleh perdebatan apakah kartu straight boleh dilawan dengan flush atau full house atau hanya bisa dilawan dengan straight dengan kartu lebih besar. Atau justru harus dilawan dengan kartu gay. Maretha membuka forum Kaskus dan menemukan jawabannya di sana. Dan ternyata, kartu gay itu tidak ada (ya kali…).

Jam sembilan pagi, Bintang Diana berlayar kembali.

Next destination. Wairiang.

Setelah bosan bermain kartu dan menghabiskan kue bolu pemberian penumpang lainnya, kami merebahkan diri. Saya sempat tertidur. Entah mengapa paha kanan terasa nyeri sekali. Sejak sampai di Baranusa, otot paha ini terasa berdenyut. Semacam twitching. Mungkin karena posisi bersila yang cukup lama di perjalanan Kalabahi – Baranusa sehari yang lalu.

Tiba-tiba kapal bergoyang cukup hebat. Gelombang. Sesekali kepala saya terasa pusing. Sial. Saya lupa minum Antimo (tepatnya, saya tidak bisa mengingat dimana menyimpan obat itu).

Tidak lama kemudian kami melihat sekumpulan lumba-lumba yang melompat-lompat di lautan. Saya terlalu takjub dan histeris kegirangan sehingga lupa memfoto mereka. Lumba-lumbanya cukup banyak, mungkin sekitar dua puluhan. Mereka mengiringi Bintang Diana selama sekitar sepuluh menit, kemudian menghilang.

Nah. Daratan sudah terlihat. Mata saya menangkap sebuah dermaga yang tidak terlalu besar. Tiba-tiba pikiran saya dipenuhi tanda tanya, nanti menuju rumah keluarga juragan kapal dengan apa? Tapi pertanyaan itu segera terjawab saat Bintang Diana tidak merapat ke dermaga, tetapi merapat di sebuah rumah panggung di sebelah pantai. Oke. Jadi… Kapal sebesar ini mendarat tepat di sebelah rumah panggung yang sudah sesak oleh perempuan-perempuan yang sibuk memasak dan anak-anak yang riuh ramai bermain. Lalu… Bagaimana dengan sapinya?

Saat kami turun ke dek bawah, kami mendapati sapi masih berbaring di lantai kapal. Wajahnya masih tertutup koran. Setelah meniti sebuah tangga yang menghubungkan antara kapal dan rumah panggung, pukul 11.20 WITA, akhirnya kami menjejakkan kaki di Pulau Lembata. Dan kami menyadari suatu hal yang cukup menyesakkan. Tidak ada sinyal.

Udara cukup panas. Dan semakin membakar mengingat di rumah panggung itu banyak perempuan yang sedang sibuk memasak. Mereka bersila dan mengaduk adonan kue bolu dengan hiasan cokelat cair. Beberapa di antaranya juga mengayun-ayun kain yang digantung pada sebuah pegas, dan di dalam kain itu terdapat anak berusia bayi hingga balita.

Mama Bintang, istri pemilik Bintang Diana mengajak kami untuk makan siang. Menunya adalah sayur nangka yang dicampur kacang hijau (ini sayur khas Makassar), dan ikan laut goreng. Rupanya kami lapar sekali sehingga melahap makanan sederhana ini. Lalu tiba-tiba kami dikejutkan oleh suara gaduh dari arah kapal. Ada benda yang jatuh ke air laut. Sapi. Sapinya diceburkan ke laut! Oke. Mungkin terdengar absurd. Dan mulut saya ternganga selama beberapa saat. Tapi tentu akan lebih absurd jika sapi itu harus ikut naik ke rumah panggung dan melewati perempuan-perempuan yang sibuk memasak.

Setelah kenyang, kami diantar ke sebuah rumah penginapan milik saudara Mama Bintang. Setelah meletakkan barang-barang, kami segera mencari colokan untuk mengisi batarai gadget masing-masing. Dan sayangnya, listrik di Wairiang menyala dua belas jam sehari. Sama dengan Baranusa. Akhirnya kami memutuskan untuk segera sholat. Kemudian, kembali kami dikejutkan oleh kenyataan bahwa tidak ada air. Well, this is just the beginning for the next moarning. I’ve warned you.

Menyadari bahwa kehidupan kami tidak terjamin dengan baik dengan kondisi Wairiang saat ini, kami bertekad untuk segera ke Lewoleba untuk mencari penghidupan. Tetapi bis angkutan terakhir sudah lewat jam dua belas siang tadi. Mama Bintang menyarankan kami untuk berangkat Sabtu pagi. Namun saat itu, sepertinya tidak ada hal menarik di Wairiang. Lewoleba lebih menantang. Dan sabtu sore kami harus kembali ke Wairiang karena acara di hari Minggu dimulai sejak pagi hari.

Mama Bintang meminjami kami dua motor. Dan satu motor bonus pengendara sebagai penunjuk jalan. Awalnya kami terlalu jumawa (saya, tepatnya). Saya berpikir, mungkin lebih enak jika saya menyetir sendiri. Mengingat jarak Wairiang – Lewoleba sekitar 100 KM. Sekitar dua jam perjalanan. Sepertinya saya mampu. Lagipula, jalanan di sekitar sini pasti hampir sama dengan di Alor. Tinggal ikuti jalan, beres.

Tetapi keluarga Mama Bintang menyarankan kami untuk tetap mengajak Aludin, sang penunjuk jalan. Saya tidak bisa mengelak. Oke. 14. 30 WITA. Berangkat.

Dan dari sinilah penderitaan dimulai.

Jika semula saya dengan sombongnya menantang jalanan Lembata, maka saya dengan rendah hati meralat pernyataan itu. Jalan dari Wairiang ke Lewoleba sangat jelek.

Sekali lagi.

Sangat jelek.

Bahkan lebih jelek dari jalan di Pulau Pantar. Selama melakukan puskesmas keliling, tidak pernah saya mendapati jalan separah ini! (Oke. Di sini kelebayan dimulai. Sebenarnya jalan menuju Kafelulang dan Helangdohi juga sangat buruk. Saya hanya belum bisa menerima nasib liburan menjadi seperti ini).

Di belakang Aludin yang memegang kendali motor, tubuh saya terlempar-lempar. Pantat ini seperti dihantamkan berkali-kali. Belum lagi sejam perjalanan, tapi pegal-pegal mulai terasa. Ditambah udara yang sangat panas dan debu yang menyiksa pernafasan. Dan sejak lima menit pertama perjalanan itu, saya bersyukur tidak menyetir sendiri.

Selama perjalanan, Aludin bercerita tentang dirinya. Dia adalah orang Alor, anak asuh Mama Bintang. Sejak kedua orang tuanya meninggal saat dia kecil, Mama Bintang mengambilnya sebagai anak angkat. Kemudian dia diterbangkan ke Batam, bersekolah dari SD hingga SMA. Lulus SMA tiga tahun yang lalu, dia kembali ke Wairiang dan bekerja membantu keluarga Mama Bintang.

Kami beristirahat di Lewolein setelah hampir tiga jam perjalanan. Tapi kami baru separuh jalan. Ternyata kondisi jalan yang begitu jelek membuat 100 KM terasa seperti 300 KM. Penat sekali. Saya bahkan tidak mampu mengingat dengan jelas daerah-daerah yang dilalui. Yang jelas, ada pembangunan jalan di sepanjang Omesuri (Ome artinya perempuan. Suri artinya laki-laki. Entah mengapa daerah itu dinamai perempuan dan laki-laki. Tidak ada banci.) dan juga Balauring.

Ah ya. Lewolein. Salah satu daerah di pulau Lembata. Menghadap ke pantai yang indah. Di sana ada tempat beristirahat bagi pengendara. Saya mengira, di balik tudung kain penutup piring yang berderet itu ada gorengan yang menggoda selera. Tetapi rupanya ada kaleso dan ikan goreng di sana (untuk Todhi, saya minta maaf karena lupa memotret kaleso ini). Maka saya dan Maretha cukup meneguk air mineral. Para pengemudi (Dedy, Rizki dan Aludin) menyesap kopi mereka. Dan Anin, entah Anin sedang apa *digetok*.

Langit menjingga. Semesta menjemput senja. Kami melanjutkan perjalanan ke Lewoleba. Kali ini, Aludin lebih banyak diam. Mungkin dia sudah capek atau mengantuk. Sayapun demikian. Sesekali saya bernyanyi ringan. Dan terima kasih Justin Bieber. As Long As You Love Me darimu sangat mudah diingat bahkan di saat terlelah seperti ini.

Sekeliling kami berubah menjadi hutan belantara. Sesekali suara burung yang aneh menyeruak dari balik pepohonan. Tiba-tiba Rizki membunyikan klakson motornya. Aludin menangkapnya sebagai tanda untuk berhenti. “Ban motor Dedy bocor,” kata Rizki.

LHAAAR!

RT @Rizki__MD: Ban bocor in the middle of nowhere…

Saya turun dari bangku belakang motor, lalu Aludin melesat berbalik arah, meninggalkan saya bersama Rizki dan Maretha. Beberapa menit terasa seperti beberapa bulan. Perasaan saya sudah disergap rasa was-was dan cemas. Tidak ada rumah penduduk di sini. Lalu bagaimana bisa mencari tukang tambal ban? Ponsel tidak mendapat sinyal. Dan jarang sekali kendaraan yang lewat. Di saat seperti inilah yang bisa disebut galau maksimal. Lelah, lapar dan terasing. Kepala saya makin pening. Perut saya seperti tergiling.

Aludin muncul bersama Anin di bangku belakang. Sedangkan Dedy mengendarai motornya sendirian. Di belakangnya ada dua orang asing dalam satu motor. Orang asing itu berbicara pada Aludin dengan bahasa daerah. Rupanya mereka memberitahu kami tempat tambal ban terdekat. Alhamdulillah Yaa Allah…

Tapi sekali lagi. Dekatnya orang NTT jauh berbeda dengan dekatnya orang di Jawa. Dekat di sini setidaknya kurang dari lima kilometer. Rupanya ada desa yang cukup ‘dekat’ dan memiliki fasilitas tambal ban.

18.00 WITA. Langit sudah gelap. Bulan hanya menampilkan cahaya temaram dari kemunculannya di malam ke tiga.

Tidak ada lampu. Kami hanya mengandalkan flashlight dari ponsel saya. Ban dalam motor diperiksa. Ternyata sobekannya luar biasa panjang sehingga tidak mungkin ditambal. Perut saya mulas lagi. Lamat-lamat saya berdoa, semoga masih ada yang menjual ban di sekitar sini.

Dedy dan salah satu orang asing tadi pergi mencari ban dalam yang dicari. Sedangkan sisanya, duduk beristirahat di tempat tambal ban. Saya sendiri sedang sibuk menenangkan tubuh yang mulai bereaksi negatif. Perut terasa diputar balik. Kepala seperti diremas dari segala arah. Kedua tangan mulai kebas. Sepertinya saya akan muntah.

Pikiran-pikiran buruk mulai menyelimuti saya. Bagaimana jika tidak ada yang menjual ban dalam? Itu berarti kami harus menginap di rumah salah satu penduduk yang nama desanyapun tidak saya ketahui.

Dan penantian ban dalam itu adalah empat puluh lima menit terlama dan terpanjang untuk kami. Setiap motor yang melintas seakan melambungkan harap, lalu menghempaskannya lagi. Sampai pada akhirnya Dedy datang dengan membawa ban dalam. Dada saya terasa lega. Tapi tidak dengan perut saya. Baiklah. Muntahkan saja.

Setelah mengganti ban dalam, kami melanjutkan perjalanan. Kami memutuskan untuk mempercepat laju kendaraan agar sampai di Lewoleba tidak terlalu malam. Desa sebelumnya sudah terlewati. Desa selanjutnya belum terlihat.

Tetapi rupanya, semesta ingin tertawa bersama kami. Belum tiga puluh menit kami melanjutkan perjalanan, ban motor Dedy bocor lagi. Tuhan… Kesan liburan yang Engkau rencanakan bagi kami begitu luar biasa. Saya sempat curiga, ini merupakan permainan Capitol yang mengendalikan hutan Lembata entah dari mana. Mungkin jika saya melambaikan tiga jari tengah tangan kanan pada kamera, para sponsor akan mengirimkan parasut berisi bantuan helikopter. Atau baling-baling bambu.

Beruntung desa selanjutnya tidak sejauh tadi. Dan paku sepanjang separuh dari jarum pentul ditemukan. Kami bisa bernafas sedikit lebih lega.

Tapi ada yang salah. Sepertinya tubuh saya sudah mencapai titik jenuh. Perut terasa seperti diaduk. Maka di samping kebun entah milik siapa, saya memuntahkan isi perut yang sudah asam untuk kedua dan ketiga kalinya.

Sambil memakan cokelat dari Rizki untuk mengisi perut yang sudah kosong, saya berdoa agar musibah ini adalah yang terakhir. Saya ingin secepatnya sampai di Lewoleba. Makan, mandi dan tidur. Itu saja.

(bersambung)

***

Moru – Alor – NTT

November 21st 2012

Perjalanan Awal Tahun

Ijinkan saya membuat sebuah cerita yang cukup panjang, tentang perjalanan di hari libur panjang awal tahun baru Hijriyah yang lalu. Dari Kalabahi (Alor) – Baranusa (Pantar) – Wairiang – Lewoleba (Lembata).

Setelah hampir delapan bulan bertugas di Alor, belum sekalipun saya menjejakkan kaki di Baranusa, salah satu desa di Kecamatan Pantar Barat (meskipun saya pernah bertugas di Kabir – Pantar selama dua bulan). Maka di libur panjang satu Muharram lalu, saya dan Maretha berencana menghabiskan liburan di sana. Rupanya, atas ajakan seorang juragan kapal Bintang Diana, dua dokter PTT Baranusa telah merencanakan perjalanan lain. Lembata. Baiklah, we’re in.

Perjalanan dimulai pada hari Kamis pagi, 15 November 2012. Saya dan Maretha sampai di pelabuhan Reklamasi tepat jam tujuh pagi. Jangkar kapal Bintang Diana sudah siap diangkat. Dengan langkah yang dipercepat, kami segera menaiki perahu motor itu. Ini adalah kali pertama kami menggunakan jasa transportasi Bintang Diana. Perahu motor Bintang Diana lebih besar daripada perahu motor Putra Jaya yang pernah mengangkut saya dari Kalabahi menuju Kabir beberapa bulan lalu.

Di dalam Bintang Diana, saya cukup kebingungan menemukan tempat duduk karena penumpang memang sudah berdesakan. Atas saran dari salah satu penumpang, maka kami menaiki tangga dan menuju dek atas. Dan rupanya, semua penumpang di dek atas adalah pemilik hormon testosteron. Saya dan Maretha duduk bersila di tengah. Bisa dibayangkan beberapa jam dalam posisi terduduk bersila tanpa sandaran punggung. Cukup menyiksa.

Saat Bintang Diana sudah mulai mengarungi lautan, pandangan kami tertuju pada seseorang yang kami kenal, berdiri terbengong-bengong di dermaga. Yak. Salah satu rekan kami, Anin, ketinggalan kapal. Padahal menurut informasi, kapal menuju Baranusa di hari itu hanya ada Bintang Diana. Kami melihat Anin menaiki kapal lain yang menuju Maliang. Itu berarti Anin harus berhenti dulu di Maliang, baru menuju Baranusa.

Kendala terbesar saat kami berada di atas Bintang Diana adalah perokok. Manusia-manusia Alor dan sekitarnya adalah perokok berat. Sangat menyebalkan. Bahkan seorang kakek yang duduk di sebelahku tidak berhenti mengepulkan asap nikotin itu. aktivitasnya hanya sebatas merokok, tidur, bangun, berkedip, merokok, tidur, bangun, berkedip dan begitu seterusnya. Untuk mengalihkan penciuman yang dijejali polusi, saya menutupi hidung dengan jilbab. Lalu menutup telinga dengan headphone, dan menyalakan music player di ponsel.

Di perjalanan, saya mengenang saat-saat masih wira-wiri dengan perahu motor saat bertugas di Kabir dulu. Pinggiran daerah Alor Kecil, tempat terjadinya tragedi seorang nona melompat dari atas kapal dan nekat berenang tanpa alat bantu apapun demi melarikan diri dari ibunya. Pada akhirnya nona tersebut berhasil ditenangkan dan diikat di tiang kapal.

Lalu Tanjung Munaseli yang terkenal. Pagi itu, perairan di sekitar Tanjung Munaseli menunjukkan aksi gelombangnya dalam mengombang-ambingkan kapal. Seperti biasa. Dari atas kapal, saya bisa melihat warna biru yang bergradasi indah serta ombak yang cukup tinggi berkejaran menuju bibir pantai.

Dermaga Kabir. Tetap hening dan sepi seperti dulu. Belum ada satupun kapal yang ada di sana. Jika dilihat dari jam, seharusnya saat itu kapal-kapal dari Kabir masih berlayar menuju Kalabahi. Tiba-tiba saya merindukan cumi-cumi yang melimpah dan murah meriah di sana.

Jam 11.00 WITA, Bintang Diana mendarat di pelabuhan Baranusa. Welcome me, Pantar Barat.

Segera saya mengirimkan pesan kepada Dedy untuk menjemput kami. Saya dan Maretha tidak melewatkan kesempatan untuk berfoto di depan tulisan pelabuhan Baranusa. Kemudian terlihat oleh kami, dua lelaki di atas motor menghampiri. Dedy dan Rizki, dua dokter PTT Baranusa. Maretha pergi membeli es batu bersama Rizki. Sedangkan saya dan Dedy berhenti sejenak di pasar untuk membeli mangga. Pasar Baranusa tidak terlalu besar jika dibandingkan Kabir. Lokasinya berada di jalanan, tepat di depan pelabuhan Baranusa. Saya dan Dedy memutuskan untuk membeli enam buah mangga udang. Lalu meluncur menuju rumah dinas dokter Baranusa.

Baranusa jauh dari yang saya perkirakan. Selain bentuk fisik jalan yang hampir mirip Kabir (khas Pantar, aspalnya terlepas di mana-mana), Baranusa lebih ramai dan lebih ‘hidup’. Rumah penduduk lebih rapat. Dan di siang hari, masih ada tanda-tanda kehidupan. Saat saya masih di Kabir, jam siang biasanya sepi. Sebagian besar penduduk beristirahat di rumah masing-masing.

Mayoritas penduduk Baranusa beragama Islam, sehingga jarang sekali ditemukan anjing dan babi berkeliaran di sini. Sangat berbeda di daerah Alor kebanyakan, dimana anjing dan babi berkeliaran layaknya ayam dan kucing di Jawa. Di Baranusa, terdapat beberapa jalan yang diplester semen, sehingga lebih mudah dilalui daripada jalan aspal yang sudah tidak berbentuk lagi.

Setibanya di rumah dinas Baranusa, kami duduk di samping pintu yang terbuka, ngobrol sambil menikmati angin yang sejuk dan es kacang hijau yang menyegarkan. Di Baranusa, air harus ditimba dari sumur dan fasilitas listrik hanya ada selama 12 jam, yaitu dari jam setengah enam malam hingga jam setengah enam pagi. Tetapi sinyal EDGE di sini kuat sekali. Bahkan saya bisa mengunduh lagu dengan cepat (ups… Jiwa pembajak).

Jam makan siang. Kami disuguhi nasi putih yang mengepul, sayur bayam, ayam goreng tepung, opor ayam, sambal dan krupuk cumi. Ah tidak lupa seteko besar sirup dingin.

Sekitar jam satu siang, Anin tiba di Baranusa. Lalu Anin dan Maretha beristirahat di dalam kamar. Sedangkan saya, Rizki, Dedy dan Gunawan (seorang perawat Baranusa) sibuk bermain kartu poker. Awalnya keberuntungan saya cukup tinggi tetapi Dewi Fortuna tidak beta berlama-lama di samping saya. Dan saya harus berdiri beberapa kali sebagai hukuman.

Maghrib tiba. Dedy dan Rizki mengajak kami berkunjung ke juragan kapal Bintang Diana, menanyakan besok akan berangkat ke Wairiang jam berapa. Dan sesampainya di sana, saya dikejutkan bahwa tujuan rombongan itu ke Wairiang adalah untuk menghadiri acara aqiqah dan resepsi pernikahan. Alamakjang. Saya melihat miris ke alas kaki yang saya kenakan. Sandal jepit. Hanya itu yang saya bawa. Tapi mengingat bahwa acara tersebut diselenggarakan hari Minggu, dan kami berlima berencana pergi ke Lewoleba pada hari Jumat, saya berpikir, nanti saja di Lewoleba mencari alas kaki yang lebih layak dari sandal jepit ini.

Kami kembali ke rumah dinas. Makan malam. Lalu Rizki menawarkan untuk membuka teater mini. Benar-benar mini. Karena yang digunakan sebagai layar adalah netbook sepuluh inci. Amazing Spiderman. Lawas sekali ya. Tapi bertugas di daerah sangat terpencil memang cukup menghambat karir dalam dunia pernontonan. Jadi harap maklum.

Tetapi tubuh kami sudah sangat lelah. Kami tidak menyelesaikan menonton aksi Andrew Garfield. Akhirnya kami kembali ke kamar masing-masing. Besok harus bangun pagi untuk mengantri mandi. Dan jam delapan pagi, kami harus sudah berada di pelabuhan, dan siap berangkat ke Wairiang.

Malam itu kami belum mampu membayangkan hal apa yang akan kami hadapi. Asal ada kartu poker dan gadget, semua pasti bisa teratasi.

(bersambung)

***

Moru – Alor – Kalabahi

November 21st 2012

View My Stats