Busur Panah Patah

RSS

Posts tagged with "noichil"

Kenalan, Yuk!

Mungkin, aku adalah salah satu manusia yang statis di dunia ini. Menjalani hidup dalam tempo serupa, tanpa berusaha mempercepat atau terlambat. Sedang-sedang saja.

Bangun pagi, mandi, sarapan, bersolek dan berkemas. Semua kulakukan dalam ritme yang sama. Tidak naik atau turun. Termasuk mengerjakan tugas kuliah dan meluangkan waktu dengan sahabat. Semua kulakukan sesuai dengan porsinya. Tidak kurang. Tidak lebih. Stabil.

Entah apa konspirasi semesta. Pagi ini aku tiba di kampus lima menit lebih awal dari biasanya. Aku duduk di depan kedai fotokopi yang dikepung mahasiswa. Mereka semua terburu-buru. Termasuk seorang laki-laki kurus nan jangkung. Laki-laki yang senyumnya membuat hidupku terasa tidak statis. Senyum itu membuat denyut jantungku melonjak tinggi, lalu jatuh ke bumi.

Dia melirik ke arahku. Lalu tersenyum. Lihatlah, bagaimana dada ini porak poranda dibuatnya.

Laki-laki kurus nan jangkung tadi berjalan. Menuju aku. Lalu duduk di sebelahku.

Tidak. Hal ini tidak boleh dibiarkan. Hidupku sudah sempurna dalam kestabilannya. Stabil yang sedang-sedang saja. Tapi senyum laki-laki kurus nan jangkung itu telah membuatku tidak puas dengan hidup yang sedang-sedang saja.

“Hei, kamu punya pulpen?” tanyanya.

Tanpa kata, kuserahkan sepucuk pulpen berwarna biru padanya. Laki-laki kurus nan jangkung itu mengeluarkan sebendel bahan kuliah dan berusaha menuliskan sesuatu di pojok kanan atasnya.

Tapi nihil. Tidak ada jejak tinta di sana. Laki-laki itu mengayun-ayunkan pulpen biru itu. Naik turun. Seakan berusaha membuat tintanya muncrat ke mana-mana. Lalu mencoba menulis lagi. Tapi tetap tidak ada satu garispun yang tergurat di sana.

“Tinta pulpennya habis ya?” tanyanya lagi. Dahinya berkerut. Matanya memandang lurus padaku.

“Hah? Eng… Nggak mungkin. Tadi masih bisa kok…” jawabku dalam kalimat yang terbata-bata.

“Nih buktinya nggak bisa.”

“Sini biar kucoba,” kataku sambil meraih pulpen itu dari tangannya.

Lalu kugoreskan pulpen itu ke telapak tanganku yang gemetar dan berkeringat. Sebuah garis terlihat. Tidak beraturan. Sama seperti gemuruh di dalam dadaku, “Ini bisa…”

Laki-laki kurus nan jangkung itu mengernyit dan memandangi goresan di telapak tanganku dengan takjub, “Kok tadi aku nyoba nggak bisa ya…”

Lalu ia menggeser bahan kuliahnya. Membuatnya berhenti tepat di depanku. Aku tidak mengerti apa maksudnya. Tapi aku terlalu gugup untuk mengalihkan wajah dan bertanya.

“Nah… Sekarang coba kamu aja yang nulis di sini,” pintanya. Suaranya tak lagi menyiratkan bingung atau heran. Aku tidak berani menebak. Tapi mungkin, dia sedang tersenyum.

Aku memberanikan diri untuk memandang wajahnya, “Nulis apa?”

“Tulis nama, alamat dan nomor telepon kamu.”

Sudah selesai sekarang. Kehidupanku yang statis telah berakhir. Kini aku ingin mencoba hidup dengan irama yang berantakan dan kocar-kacir. Seperti perasaanku pagi ini.

***

Kalabahi – Alor – NTT January 13th 2013

Jan 2

Lelaki Yang Menangis Di Bawah Hujan

rain,umbrella,myweblog,sad,cloud,man-8839220bc74edfe0ea4c542b86d68d6e_h

Hujan.

Satu kata yang akhir-akhir ini banyak dihujat. Ia adalah penyebab ibu-ibu meracau seharian karena jemuran mereka tidak kunjung kering. Ia adalah penyebab seorang perempuan marah dan kecewa karena tidak jadi berkencan. Ia adalah penyebab sepasang suami istri menangis seharian karena anaknya mati terseret banjir.

Tapi bagiku, hujan adalah perantara pertemuanku dengan lelaki itu. Aku selalu mengamatinya dari tempat yang sama di sebuah kantin kantor yang menghadap halaman parkir.

Matanya gelap dan bulat. Begitu jernih sehingga terasa ingin bercermin di sana. Hidungnya tidak terlalu mancung, tapi tidak ada bentuk lain yang pas untuk wajahnya kecuali hidung yang sedang-sedang saja. Rambutnya ikal dan kecokelatan. Selalu berantakan, dengan anak rambut nakal yang jatuh di keningnya dengan sangat menggemaskan. Dan senyumnya… Senyumnya adalah muara rindu yang sempurna.

Sore ini, hujan turun lagi.

Aku memutuskan untuk menemui lelaki itu lagi. Siapa tahu bisa berbincang sejenak seperti pertemuan kami seminggu yang lalu. Setelah jam kantor berakhir, aku segera turun ke lantai satu dan menuju ke kantin.

“Satu americano tanpa gula,” kataku pada Elian, barista di kantin ini.

“Nggak nambah apa-apa lagi, Mas Deny?” tanyanya.

“Sama croissant boleh deh…”

Setelah membayar, aku membawa nampan berisi cangkir kopi yang mengepul dan sebuah croissant hangat ke tempat biasa. Tempat dimana aku bisa menikmati hujan dan lelaki itu.

Hujan semakin deras. Beberapa rekanku nekat berlarian supaya bisa segera pulang. Pelataran parkir mulai sepi. Hanya ada dua mobil yang tersisa dan terguyur hujan.

Satu sesapan kopi.

Tapi lelaki hujan tak kunjung tiba. Aku membuka laptop dan mulai menggunakan fasilitas wi-fi di kantin ini. Membuka beberapa halaman blog favorit dan mulai membaca. Sesekali mataku melirik ke pelataran parkir dan mulai mencari-cari si lelaki hujan.

Satu gigitan croissant.

Tapi lelaki hujan belum juga menampakkan senyumnya. Aku mulai khawatir. Jangan-jangan terjadi sesuatu padanya. Karena aku tahu betul, lelaki itu sangat suka saat hujan tiba. Ia mencumbu setiap tetes air yang jatuh. Senyumnya adalah alasan langit tetap cerah meski hujan menghujam bumi bertubi-tubi. Dan ini menjadi hari ketiga ia tidak bercinta dengan hujan jika ia tidak datang.

Tiba-tiba terdengar suara khas ban yang berderit. Sebuah pengendara mobil van mengerem mendadak. Ada teriakan di sana.

Lelaki hujan.

Tubuhku refleks berdiri, menatap nanar tubuh lelaki hujan yang tergeletak dan berdarah-darah. Payungnya yang besar tergeletak di ujung mobil. Penyok tak karuan.

Pengendara mobil van memunculkan kepalanya dari jendela. Lalu tampak kengerian di wajahnya. Pengendara van itu turun dari mobilnya, “Astaga… Saya benar-benar nggak tahu kalo anak ini nyebrang.”

Aku berlari mendekati lelaki hujan dan merengkuh tubuh kecilnya dalam satu pelukan. Darah mengalir dari pelipisnya. Memerahkan tetes hujan. Bau anyir dan hujan kini beradu jadi satu.

Mataku menangkap sebuah kresek putih yang tergenangi air hujan dan darah. Isinya berserakan. Sebuah botol obat berlabel nama ibunya.

Ada sesal dan lara yang menyusup perlahan. Seandainya saja, lelaki hujan menyetujui ideku untuk segera pindah ke rumah tinggal anak jalanan, tentu kejadian memilukan ini tak pernah terjadi.

“Kenapa jadi ojek payung? Main hujan-hujanan terus nanti sakit.”

“Kalo nggak ngojek payung, nggak punya duit buat makan, Kak. Nggak bisa beli obat ibu. Nggak bisa setor ke preman gang juga.”

“Kamu sama ibumu pindah ke rumah tinggal aja. Aman. Nggak ada preman.”

“Ibu nggak bakal mau.”

“Kamu suka hujan?”

“Banget.”

“Kenapa?”

“Karena laki-laki lebih suka menangis di bawah hujan.”

Aku tidak mengerti mengapa bisa sesedih ini. Hatiku pilu membayangkan betapa pedih hati ibunya mengetahui anak lelakinya telah mati.

Air mata menetes tanpa kusadari. Tanpa bisa kucegah. Tangisku pecah di bawah hujan. Dan kubiarkan bilur-bilurnya membasuh air mata dan rasa kehilangan yang menyeruak diam-diam.

***

Kalabahi – Alor – NTT

Jan 2nd 2013

Parikan Jowo (Kesekian)

Beberapa hari yang lalu, salah seorang teman lama meretweet sebuah tweet lama saya. Parikan Jowo. Mendadak saya kangen membuat parikan-parikan konyol dari bahasa  Jawa :))

  • Njemur kathok neng ngisor wringin. Malah lugur nutupi rai. You’d better come in. It’s too cold outside for angel to fly.
  • Tengah wengi tuku garbis. Natap kayu, untune njepat. I lost my way to paradise. But I bet you definitely could lead me the path.
  • Bemper montor penyok, digeret wedhus. I’m ready for anaphylactic shock. Because you’ve got me the adrenaline rush.
  • Golek hape sékên, malah ditawari klambi. It’s not Halloween, but how’d you give the goosebumps in me?
  • Ngelak ngombe banyu, luwe mangan dele. I don’t know how to convince you. But I miss you in every way.
  • Banci njengking, bokonge dijapit yuyu. Perfection is nothing if I live this life without you.
  • Kecantol hanger, bathuké jenong. I wish you’re not a lawyer. Because I don’t wanna be your objection.
  • Kedlusupen jarum sampe getihe mili. You are my autumn, the reason why my heart blooms beautifully. 

***

Kalabahi – Alor – NTT

December 16th 2012

Memvisum Visum

Di Rabu pagi yang cerah, tanggal 26 September 2012 jam 08.00 WITA, saya sudah siap untuk pergi ke puskesmas. Biasanya, Rabu adalah hari yang sibuk, karena di Moru ada ‘pasar’, dimana warga di sekitar Moru berbondong-bondong melakukan kegiatan jual-beli di pasar dan ‘sekalian’ periksa kesehatan di puskesmas. Perasaan saya ringan dan ingin waktu cepat berlalu, agar segera pulang ke rumah dinas dan melanjutkan menonton serial Korea yang belum tamat (tetep).

Ruang poli umum baru saja dipel. Lantainya masih basah. Saya dan dua orang sejawat menunggu di sebuah kursi panjang di depan poli umum. Dan mengobrol tentang pempek kentang yang kami buat sebelum berangkat ke puskesmas.

Lalu salah seorang staf puskesmas datang. Wajahnya cemas dan tegang, duduk di depanku, “Ibu Dokter, bapak yang pernah divisum protes karena di kesimpulan visum et repertum yang Ibu Dokter buat, tertulis tidak didapatkan tanda-tanda kekerasan.” Pagiku mendadak kelabu. Berurusan dengan apapun yang berembel-embel polisi biasanya tidak menyenangkan. Tuhan… Apa lagi ini…

Dengan jantung yang dag-dig-dug saya berjalan ke kantor, menemui bapak yang protes itu. Saya sedang mendapati dia sedang menjelaskan panjang lebar kepada Ibu Kepala Puskesmas (Kapus). Bapak itu dan Ibu Kapus menolehkan kepala, memandang saya. Saya tersenyum getir. Mengucapkan salam, lalu duduk di hadapan bapak itu, “Ada masalah apa, Pak?”

“Saya kemarin datang ke kantor polisi. Polisi bilang, surat visum sudah diambil kemarin. Dan hasilnya tidak ada tanda-tanda kekerasan. Bagaimana bisa kesimpulannya seperti itu?” kata bapak itu dengan emosi.

Sejenak, aku mengernyitkan dahi. Mengingat-ingat kapan bapak ini datang ke puskesmas untuk dilakukan pemeriksaan. Saya meminta staf untuk membawakan status dan surat permohonan visumnya. Kejadian pelemparan batu terjadi tanggal 30 Juli 2012. Surat visum tertanggal 2 Agustus 2012. Dan korban datang ke puskesmas tanggal 4 Agustus 2012. Saat datang, tidak didapatkan tanda radang akut berupa bengkak, kemerahan, panas, atau luka terbuka. Hanya ada nyeri tekan dan penurunan ruang gerak jari-jari tangan. Bisa jadi, tanda radang akut itu sudah hilang mengingat saya memeriksa kondisi pasien hampir seminggu setelah kejadian.

“Lalu Bapak berharap saya menulis kesimpulan seperti apa?” tanya saya.

“Pokoknya tulis tanda-tanda kekerasan!”

“Meskipun saya harus berbohong?”

“Lalu Ibu Dokter pikir saya berbohong?”

Saya menghela napas. Pagi ini pasti akan terjadi debat kusir, “Bapak, saya akan jelaskan, dengan catatan bapak jangan memotong omongan saya.” Pelan-pelan saya mencoba menahan diri untuk tidak terpancing. Menarik nafas dalam agar suara tidak bergetar. Meski jari-jari rasanya sudah mati rasa.

“Pertama. Saya menyayangkan bapak tidak langsung datang ke kantor polisi untuk meminta surat permintaan visum. Bapak melapor ke polisi empat hari setelah kejadian. Dimana tentunya tanda-tanda kekerasan sudah mulai menghilang.”

“Kedua. Saya menyayangkan bapak tidak segera melakukan pemeriksaan visum ke puskesmas. Pemeriksaan terhadap bapak, saya lakukan enam hari setelah kejadian. Sekali lagi, tanda objektif kekerasan sudah hilang.”

“Tangan saya sakit sekali, sehingga tidak bisa datang ke puskesmas,” sela bapak tadi.

Saya tersenyum dan memandang bapak itu dengan lekat, “Jika bapak menganggap tuntutan terhadap tindak kekerasan ini penting, maka separah apapun bapak pasti sudah melapor. Dan pada saat itu, saya yakin bapak mampu berjalan, karena yang terkena lemparan batu hanya punggung tangan bagian kiri dan tidak parah apalagi mengalami luka terbuka. Dan sekali lagi, mohon… jangan memotong omongan saya.”

Suasana hening sejenak. Mulut saya mulai kering. Kepala puskesmas memandang saya dengan wajah penuh kekhawatiran. Dan sepertinya suara saya sudah mulai bergetar.

“Ketiga. Pada saat saya memeriksa bapak, saya menjelaskan bahwa tanda-tanda kekerasan sudah hilang. Saya juga sudah menjelaskan bahwa saya tidak bisa menulis keluhan subyektif berdasarkan cerita bapak. Jika pada saat itu saya tidak melihat bengkak, kemerahan, atau meraba panas pada kulit bapak, jelas saya tidak bisa menuliskan dalam laporan. Karena saya tidak bisa berbohong. Bapak adalah orang yang beragama. Tentu paham hal ini.”

“Tapi tangan saya masih sakit. Apa Ibu tidak bisa percaya?”

“Saya percaya. Tapi sakit adalah keluhan subyektif. Dan saya tidak bisa menuliskan data subyektif pada visum. Tetapi saya telah menuliskan bahwa telah terjadi penurunan Range of Motion pada tangan Bapak. Masalah apakah polisi membuatnya sebagai bahan pertimbangan atau tidak, itu di luar kekuasaan saya.”

“Saya bisa ajukan ini ke media massa agar semua masyarakat Alor bisa tau,” nada bicara bapak itu mulai meninggi.

Wajah-wajah di ruang kantor semakin cemas. Jujur, saya jengah dan sedikit gentar mendengar kalimat bapak ini. Tetapi bagaimanapun, saya merasa bahwa tindakan saya benar, “Silakan. Saya punya saksi dan bisa mempertanggungjawabkan apa yang saya tulis.”

“Saya ini punya jabatan. Saya adalah advokat yang disumpah,” kata bapak itu dengan setengah berteriak. Aduh. Tolong. Pitch controlnya, Pak.

Tetapi tipikal pejabat di wilayah Alor memang ingin dinomorsatukan. Beberapa bahkan cenderung semaunya sendiri dan bisa berbuat nekat. Kepala saya sudah mulai mendidih, tangan mengepal. Tapi saya berusaha tetap merendahkan suara. ‘Kalo situ pejabat trus kenapa? Apa saya harus membuat laporan visum ulang? Lu gila?’ Tidak. Kalimat ini tidak terlontar keluar. Dalam hati saja. Bisa-bisa saya dituduh melakukan tindakan yang tidak menyenangkan *sigh*. Konyol rasanya jika pagi-pagi sudah adu mulut dengan seorang bapak-bapak yang gila jabatan. Gengsi saya merangkak naik, mengingatkan diri sendiri, jangan sampai merendahkan diri ke titik yang sama dengan bapak itu karena terbawa emosi.

“Saya juga punya sumpah yang harus saya pegang. Dan bapak perlu tau, saya melayani masyarakat tidak memandang status atau jabatannya,” nafas saya mulai memburu. Suhu tubuh saya mulai meningkat. Perut mulai mulas, jantung berdebar kencang seperti habis latihan kardio selama 30 menit.

Mungkin, mental blind spot bapak itu sudah terlalu luas. Dia menyangkal, merepresi dan merasionalisasi tindakannya sendiri sehingga gagal melihat kebenaran dan kenyataan. Dia berbohong pada dirinya, memosisikan dirinya sebagai korban tanpa mau mengerti dimana letak titik masalahnya. Malah berkuliah tentang pentingnya posisi pekerjaannya di Alor, menbawa-bawa jabatan dan gelar. Atau yang lebih penting bagi dirinya adalah bahwa kasus kekerasan yang dialaminya harus dimenangkan olehnya, bukan lagi benar atau tidak proses yang dilalui. Beginilah jika seseorang terlalu terfokus pada hasil dan mengabaikan proses. Ancur minaaa!

Lalu Ibu Kapus berkata, “Bapak seharusnya bisa paham, semua profesi ada sumpahnya. Saya bukan membela Ibu dokter, tapi apa yang Ibu dokter lakukan sudah benar. Apa yang Ibu dokter tulis itu sesuai yang Ibu dokter lihat. Mengenai penyelesaian masalah bapak dengan orang yang melempar batu dua bulan lalu, coba selesaikan dengan polisi.”

Setengah kesal saya melirik jam di dinding, 09.00 WITA. Debat kusir ini rasanya sudah membuang-buang waktu. Tetapi cukup berguna sebagai pengalaman. Saya pernah mendengar cerita yang lebih absurd dari ini (berhubungan dengan visum). Seorang sejawat PTT di Alor, mengalami teror dari oknum kepolisian karena keterangan yang ada di visum tidak dibuat tepat setelah kejadian perkara. Tetapi sesuai dengan tanggal datangnya surat permintaan visum et repertum (SPVR). Polisi mengatakan bahwa dokter harus menulis sesuai kejadian, bukan datangnya SPVR. Padahal, SPVR dan korban datang pada dokter beberapa hari setelah kejadian. Semua orang tahu siapa yang salah. Apalagi alasan keterlambatan pembuatan SPVR adalah printer yang rusak. Kadang-kadang sesuatu yang sebenarnya mudah untuk dimasukkan ke akal menjadi begitu sulit hanya karena keegoisan seseorang/oknum.

“Saya rasa penjelasan saya dan Ibu Kapus sudah cukup. Saya mohon maaf jika bapak tidak puas. Tapi mohon masalah ini dipahami baik-baik. Bapak adalah advokat, tentu paham tentang hukum, tentu bisa memahami hal seremeh ini. Jika sudah tidak ada yang dibicarakan, saya pamit mau ke poli. Sudah banyak pasien yang menunggu.”

Tanpa persetujuan, saya berdiri dari kursi plastik berwarna hijau, lalu menghampiri si bapak tadi dan menyalaminya, “Dan semoga tangan yang masih sakit itu cepat sembuh. Jika berkenan, silakan mampir ke poli untuk saya periksa lagi. Permisi.” Lalu saya melenggang keluar kantor dengan hati masih marah, berjalan dengan langkah yang ditegap-tegapkan ke arah poli umum.

Saya kembali mengingatkan diri sendiri dan siapapun yang membaca postingan ini, bahwa kelengkapan status dan tulis-menulis itu SANGAT penting. Sekali lagi, SANGAT PENTING. Terutama pada kasus yang rawan seperti ini, dan di lingkungan yang cenderung ‘semaunya sendiri’. Mintalah perawat atau bidan menemani kita saat pemeriksaan dan pembuatan visum et repertum agar ada saksi tentang apa yang kita periksa dan laporkan.

Dan hari Jumat, 14 Desember 2012 lalu, saya menerima permintaan visum et repertum perihal kekerasan terhadap seorang anak perempuan yang pingsan akibat ditampar dan dipukul kepalanya oleh guru olah raga di sekolahnya. Alamak. Tidak bisakah warga Alor dan sekitarnya ini berhenti menggunakan adu fisik untuk menyalurkan emosi? *no hope*

***

Kalabahi – Alor – NTT

December 15th 2012

Dec 6

Di Antara Dua Punggung

Mataku hampa memandangi jemari tangan yang memilin-milin ujung blus berwarna biru. Sebenarnya otakku memerintahkan untuk duduk tegak dan menghadapi semuanya layaknya orang dewasa. Tetapi syaraf optik yang menangkap objek sebuah meja hijau, justru menyampaikan ketakutan yang menghitam ke  seluruh sistem tubuhku.

Sekelilingku tenang. Tapi riuh di dalam hatiku mencengkeram jantungku sehingga berdenyut lebih kencang. Aku merasakan ketakutan yang sama dari lelaki di sampingku. Tubuh kami gemetar hebat saat suara hakim menggema, “Dengan mengucap bismillahirrohmanirohim, maka dijatuhkan talak satu dari Brama Adirejo kepada Hanum Pramesti.”

Palu diketuk tiga kali.

Jelas sudah jarak yang terbentang di antara kami. Tetapi jarak ini justru lebih dekat daripada dua manusia seranjang yang tidur berpunggungan setiap hari.

***

Maiwal - Alor Barat Daya - NTT

November 28, 2012

[diposting di Cubiculum Notatum]

Dec 6

06 Desember 2012

Moru diguyur hujan. Deras. Sama sekali tidak menyisakan ruang bagi suara. Hanya ada tumpahan air dari langit yang menghujam bumi. Angin pengiring hujan berusaha mengobrak-abrik segala hal yang ditemuinya. Sesekali jantungku ikut berdesir. Aku merindukan hujan, tetapi tidak dengan badai. Ini sama saja dengan rasa yang terpendam pada kekasih, dan akhirnya meringkuk sendiri karena rupanya ia datang bersama seseorang yang mendampingi

Seharusnya, suasana sendu seperti ini sanggup membuaiku dalam tidur yang nyaman. Bergumul di dalam selimut yang tipis, sekedar syarat untuk menambahkan nuansa syahdu tidur di kala hujan. Mengetik beberapa tweet hingga akhirnya tertidur sampai Ashar.

Namun sebuah pesan menerobos masuk ke ponselku. Bapak. Mengabarkan bahwa surat dan beberapa foto yang kukirim telah diterima dengan selamat. Bibirku menyunggingkan senyum. Perasaan yang merambat ke tubuhku ini susah dijabarkan. Bahwa betapa surat yang sederhana bisa meletupkan banyak hal. Rasa deg-degan, apakah surat itu sampai dengan selamat, mengira-ngira bagaimana perasaan bapak dan ibu saat membaca surat dan melihat foto-foto yang kukirimkan. Dan aku juga yakin, rasa deg-degan itu juga melompat-lompat di hati mereka ketika membuka amplop dan membaca surat yang tertulis di sana.

Menjaga romantisme, begitu kata bapak. Seringkali kutanggapi dengan, “Ah, romantis dan kere beda tipis!” Dan bapak tertawa mendengar responku sebagai tanda setuju. Mengapa memilih surat? Bukankah itu kuno sekali? Sederhana saja. Orang tuaku tidak tahu-menahu tentang internet dan sebagainya. Menerima MMS  juga tidak pernah. Selama ini aku hanya mengabari via suara. Maka aku mengirimkan beberapa surat dan foto sebagai pemuas mata dan hati orang tua bahwa anak perempuannya di rantau baik-baik saja.

Dan siang ini, hujan berhasil menari-nari di atas rinduku yang menggebu. Sudah tiga hari aku memimpikan hal yang sama. Berjalan-jalan dengan ibu dan bapak. Bertiga saja. Aku dan bapak bergantian menyetir mobil, sedangkan ibu sibuk mengupas buah untuk kami. Sesekali aku merebahkan diri di pangkuan ibu di bangku belakang saat bapak menyetir. Menikmati belaiannya di kepalaku yang tertutup jilbab. Bercerita apa saja. Atau sekedar membahas arti lagu Korea dan India yang mengalun dari dek musik.

Sehari yang lalu, aku menelepon kedua orang tuaku. Mendengar suara mereka lalu kupindai hingga masuk ke dalam mimpi. Memuaskan rindu yang justru membumbung tinggi hingga ke ubun-ubun. Bapak bercerita tentang pembangunan masjid yang hampir rampung. Dan menceritakan tentang tiga kelinci dewasa yang akhirnya dijual, menyisakan delapan anak kelinci yang sudah bisa makan sendiri tanpa susu ibunya. Ibu bercerita tentang pasien ibu bersalin yang sempat drop tekanan darahnya. Beliau sempat panik dan cemas kondisi pasiennya tidak segera membaik. Aku bisa merasakan kekhawatiran Ibu. Dalam usia yang sudah melewati setengah abad, tentu saja kondisi Ibu tidak seprima dulu. Berkali-kali aku mengingatkan untuk segera beristirahat agar tekanan darah Ibu tidak naik lagi.

Perlahan-lahan, rasa rindu menyergapku dari segala sudut. Sembilan puluh dua hari sejak pertemuan terakhir, rasanya tanganku sudah meraung-raung untuk segera merengkuhkan pelukan pada tubuh mereka. Kepalaku kembali memutar percakapan konyol kami, bersama gelas kopi atau teh yang mengepul, sepiring pisang goreng, dan acara TV yang selalu bisa dikomentari. Aku menahan tanganku untuk menekan tombol nomor rumah. Karena mendengarkan suara mereka di suasana yang sendu ini, sangat berbahaya bagi pertahananku siang ini.

From: AaPapi

Foto dan surat sudah diterima, Non. Foto-fotonya bagus.

Received: Dec 6, 12:30

To: AaPapi

Alhamdulillah suratnya sudah sampai. Tulisannya terbaca jelas tho, Pak?

Sent: Dec 6, 12:40

From: AaPapi

Jelas banget, Non. Tapi sudah mulai mirip tulisan dokter. Sudah mulai jelek.

Received: Dec 6, 13:10

Hujan deras di luar sana. Airnya merembes hingga mataku basah. Dan kini, hatiku telah habis dibanjiri rindu.

***

115 hari menjelang kepulangan

Moru – Alor – NTT

Dec 5

Noise Induced Hearing Loss

Hana suka berjalan-jalan di taman. Sepuluh menit dari rumahnya yang langsung berhadapan dengan rel kereta api. Biasanya Hana duduk di tepi kolam, memandangi air mancur yang mengagumkan. Sesekali dia menjulurkan kepalanya, melihat bunga-bunga teratai yang indah. Senyumnya mengembang saat beberapa ekor ikan melintas dengan genitnya.

Hana melihat sekeliling. Ia mendapati anak laki-laki yang tampak kegirangan saat ayahnya meniup balon-balon sabun. Tangan kecilnya menggapai-gapai balon-balon sabun yang terbang ke udara, lalu tergelak hingga menyipit matanya.

Hana menengadahkan kepalanya, matanya tertutup. Ia mengingat suara-suara dan mencocokkannya dengan apa yang dilihatnya sore ini. Suara yang direnggut darinya sejak tiga tahun terakhir. Sejak pendengarannya menghilang karena ditempa polusi suara kereta api yang didengarnya setiap hari.

***

Kalabahi – Alor – NTT

November 24th 2012

[diposting di Cubiculum Notatum]

Dec 4

7.352.611.894.735

Aku sudah bosan menunggu. Pohon mangga sudah berbuah jutaan kali. Semua rumah di tempat ini sudah kusinggahi. Bahkan bintangpun sudah kuhitung habis. Tujuh trilyun tiga ratus lima puluh dua milyar enam ratus sebelas juta delapan ratus sembilan puluh empat ribu tujuh ratus tiga puluh lima. Jika tidak percaya, silakan hitung sendiri. Tapi aku tetap tidak tahu sampai kapan harus menunggu.

Dadaku perih memandang lembar-lembar kalender yang memenuhi rumahku. Terlalu lama. Seharusnya ia sudah menyusulku.

Dulu ia membawaku kabur dari rumah. Pernikahan kami tidak disetujui ayahku. Kami sepakat menenggak racun. Aku mati lebih dulu, ratusan tahun yang lalu. Tapi sampai baju pengantinku sudah tidak putih lagi, lelakiku itu tidak juga datang padaku.

***

Kalabahi – Alor – NTT

November 24th 2012

[diposting di Cubiculum Notatum]

Dec 3

Tunggu Saja

Aku sudah menunggunya lama sekali. Leherku pegal, tubuhku lelah, dan hatiku resah.

Berkali-kali aku mengonfirmasi apakah penerbangannya baik-baik saja. Perempuan tua di meja informasi itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku tidak mengerti untuk apa ia dibayar. Karena ia tidak bicara meski hanya sepatah kata.

Ini keterlaluan. Sudah terlalu lama. Aku kehabisan ide untuk membunuh bosan. Dan hatiku teriris melihat orang lain telah berpelukan dengan seseorang yang dinantinya.

Kembali aku bertanya pada si perempuan tua. Ia berkata, “Jangan banyak tanya. Tunggu saja.”

Kutengadahkan kepala, membaca papan informasi penerbangan. Air mataku merebak, dadaku sesak. Di samping namaku, terdapat tulisan DELAYED yang berkedip pelan. Sekali lagi, jodohku ditunda sampai pada waktu yang tidak bisa ditentukan.

***

Moru – Alor – NTT

November 27th 2012

[diposting di Cubiculum Notatum]

Dec 2

Karena Hanya Semesta Yang Tahu

Apalah arti kata-kata indah jika mereka tidak bisa menghiburmu yang sedang gundah?

Rangkaian aksara hanyalah puisi tanpa makna jika masih ada air mata.

Aku, di sini, berusaha memeluk ragumu.

Jangan bicara jika engkau tak mau. Rasakan saja aku yang bersedih untukmu. Bahkan, kusediakan jutaan kecupan jika engkau mau.

Nah.

Sekarang, menangislah bersamaku. Pindahkan sebagian bebanmu padaku.

Dan biarkan Semesta menjalankan tugasnya, sebagai Sutradara drama dan dilema.

Karena hanya Ia yang tahu, kapan kegundahan ini harus diakhiri.

***

Kalabahi – Alor – NTT

December 2nd 2012

Dec 2
Senja dari desa Takpala, Alor, Nusa Tenggara Timur

Senja dari desa Takpala, Alor, Nusa Tenggara Timur

Dec 2

Kejutan

image

Rama berjalan mondar-mandir di depan pintu kamarnya. Peluh di keningnya membanjir, seiring dengan batinnya yang memanas. Ada perang di dalam jiwanya. Mempertanyakan kesucian istrinya yang diculik Rahwana dalam waktu yang cukup lama. Sebagai seorang calon raja, memiliki istri yang telah dijamah musuh sangat mengganggu harga dirinya. Ini pertentangan batin yang sangat rumit. Cinta atau logika.

Tiga tahun.

Sebagian dari dirinya menolak untuk percaya bahwa istrinya setia. Dan seluruh dari dirinya tidak yakin bahwa Rahwana, raja Alengka, belum mendaratkan sentuhan ke kulit Shinta. Terlebih lagi sikap Shinta yang dengan tegas menolak kembali pulang saat Hanoman datang ke Alengka untuk menyelamatkannya.

“Aku tidak mengharapkan engkau, Hanoman, yang datang menyelamatkanku. Tetapi Rama sendiri.”

Hati Rama sakit mendengar pesan Shinta yang disampaikan melalui Hanoman itu. Ada sejumput sesal di hatinya. Seharusnya, sebagai calon raja Ayodya, ia memperjuangkan cintanya dengan gagah berani. Bukan justru mengalihkan tanggung jawab itu kepada anak buahnya.

Tetapi ada penyangkalan yang lebih besar. Bahwa kejadian penculikan Shinta oleh Rahwana bukan karena salahnya. Siang itu, Shinta begitu manja, merengek-rengek menginginkan seekor kijang berbulu emas yang lewat di depan rumah mereka. Meskipun sejatinya, Rama mengetahui bahwa kijang emas itu adalah jelmaan anak buah Rahwana. Tetapi demi menyenangkan hati istri yang dicintainya, Rama pergi dan meninggalkan Shinta berdua dengan adik Rama, Laksmana.

Seperti yang sudah diduga, Rama diserang oleh sang kijang jelmaan. Rama dipukul hingga pingsan. Laksmana segera pergi menyelamatkan kakaknya setelah membuat lingkaran di sekitar rumah mereka. Lingkaran yang tidak bisa diterobos oleh apapun.

Dan lagi-lagi, hati Shinta mudah sekali goyah. Setelah menginginkan kijang emas, kali ini hatinya tergetar oleh seorang brahmana yang kelaparan di seberang lingkaran yang dibuat Laksmana. Dan Rahwana yang menyamar sebagai brahmana itu berhasil menarik tangan Shinta, dan membawanya ke Alengka dalam waktu yang cukup lama.

Rama sama sekali tidak mengerti. Begitu poloskah istrinya sehingga tidak bisa membedakan mana yang bisa dipercaya dan mana yang harus diabaikan. Polos. Mungkin kata yang lebih baik daripada bodoh. Kepala Rama pusing memikirkan bahwa kepolosan istrinya bisa saja menjerumuskan hati wanita itu sekali lagi. Jatuh dalam tipu daya cinta Rahwana selama mereka bersama. Dan hati Rama perih membayangkan mereka bercinta.

Hatinya gelisah. Ia meremas-remas jemarinya yang basah. Berkali-kali Rama berusaha menggenggam sebuah keputusan. Tetapi selalu luput dan terselip begitu saja. Menghempaskannya lagi pada kursi kebimbangan.

Dari luar, Rama memandang Shinta yang tengah duduk di ranjang kamar mereka. Wajahnya begitu sedih dan merana. Hati Rama bergetar. Dulu, ia harus mengerahkan tenaga, membentangkan busur pusaka maha berat anugerah Dewa Siwa demi memenangkan hati Shinta. Mengingat perjuangan itu, seharusnya ia bisa lebih menyenangkan hati istrinya. Shinta pasti merasa sendirian dan ditinggalkan selama tiga tahun disekap Rahwana. Batin Shinta telah disiksa rindu yang membara, sama seperti dirinya.

Dan tiga hari yang lalu, Rama menghancurkan Rahwana dan seluruh kerajaan Alengka.  Tiga hari yang lalu, ia berhasil membawa istrinya pulang. Tetapi semua itu sia-sia jika ia terlalu sibuk mempertanyakan kesetiaan Shinta. Semua tidak berarti jika istrinya itu tidak bisa melihat seberapa besar cintanya. Dan apalah arti sebuah negara Ayodya kelak jika meluluhkan hati istrinya saja tidak mampu dilakukannya.

Sampailah calon raja Ayodya ini pada sebuah keputusan. Rama mengabaikan tawaran Dewa Brahma dan Dewa Agni, membakar Shinta di dalam api suci untuk membuktikan kesetiaan istrinya. Ia membuang keraguan dan kecurigaan hati pada Shinta. Karena dalam lubuk hatinya, Rama masih ingin percaya. Dan akhirnya, cintalah yang menang.

Rama menghampiri istrinya dengan tergesa-gesa. Dengan sekali rengkuhan, ditenggelamkannya Shinta ke dalam pelukan, “Maafkan aku karena terlalu lama menjemput dirimu. Maafkan aku yang sempat ragu pada cintamu. Dan terima kasih karena engkau mau kembali datang padaku.”

Shinta menyambut dengan bahagia. Dan mereka mulai bercinta. Kerinduan yang telah tertunda sekian lama, tumpah ruah dan membabi buta. Nafas dan detak jantung yang pernah terpisahkan itu kini kembali menyatu dalam kecupan dan dekapan yang saling beradu dan memburu.

Tetapi tiba-tiba tubuh Rama menegang dan merosot ke kaki ranjang. Mulutnya menganga. Isi di dalam perutnya bergolak. Tubuhnya lumpuh dan tak berdaya.

Sialan.

Rahwana telah memasang pengaman besi di selangkangan istrinya.

***

 

Kalabahi – Alor – NTT

December 2nd 2012


[perpanjangan dari #111kata berjudul Kejutan di Cubiculum Notatum]

Dec 1

Apalah arti sebuah nama? Tentu ada. Jika nama tidak berarti apa-apa, maka tidak ada alasan berpisah karena menyebut Tuhan dengan nama yang berbeda.

- @noichil

Dec 1

Kamu adalah lembaran buku yang tak ingin habis kubaca. Deretan asmara yang tak pernah selesai kumaknai. Letupan rindu yang tak ingin kusudahi.

- @noichil

Wolang - Alor - Nusa Tenggara Timur

Wolang - Alor - Nusa Tenggara Timur

View My Stats