Busur Panah Patah

RSS

Posts tagged with "ntt"

Memvisum Visum

Di Rabu pagi yang cerah, tanggal 26 September 2012 jam 08.00 WITA, saya sudah siap untuk pergi ke puskesmas. Biasanya, Rabu adalah hari yang sibuk, karena di Moru ada ‘pasar’, dimana warga di sekitar Moru berbondong-bondong melakukan kegiatan jual-beli di pasar dan ‘sekalian’ periksa kesehatan di puskesmas. Perasaan saya ringan dan ingin waktu cepat berlalu, agar segera pulang ke rumah dinas dan melanjutkan menonton serial Korea yang belum tamat (tetep).

Ruang poli umum baru saja dipel. Lantainya masih basah. Saya dan dua orang sejawat menunggu di sebuah kursi panjang di depan poli umum. Dan mengobrol tentang pempek kentang yang kami buat sebelum berangkat ke puskesmas.

Lalu salah seorang staf puskesmas datang. Wajahnya cemas dan tegang, duduk di depanku, “Ibu Dokter, bapak yang pernah divisum protes karena di kesimpulan visum et repertum yang Ibu Dokter buat, tertulis tidak didapatkan tanda-tanda kekerasan.” Pagiku mendadak kelabu. Berurusan dengan apapun yang berembel-embel polisi biasanya tidak menyenangkan. Tuhan… Apa lagi ini…

Dengan jantung yang dag-dig-dug saya berjalan ke kantor, menemui bapak yang protes itu. Saya sedang mendapati dia sedang menjelaskan panjang lebar kepada Ibu Kepala Puskesmas (Kapus). Bapak itu dan Ibu Kapus menolehkan kepala, memandang saya. Saya tersenyum getir. Mengucapkan salam, lalu duduk di hadapan bapak itu, “Ada masalah apa, Pak?”

“Saya kemarin datang ke kantor polisi. Polisi bilang, surat visum sudah diambil kemarin. Dan hasilnya tidak ada tanda-tanda kekerasan. Bagaimana bisa kesimpulannya seperti itu?” kata bapak itu dengan emosi.

Sejenak, aku mengernyitkan dahi. Mengingat-ingat kapan bapak ini datang ke puskesmas untuk dilakukan pemeriksaan. Saya meminta staf untuk membawakan status dan surat permohonan visumnya. Kejadian pelemparan batu terjadi tanggal 30 Juli 2012. Surat visum tertanggal 2 Agustus 2012. Dan korban datang ke puskesmas tanggal 4 Agustus 2012. Saat datang, tidak didapatkan tanda radang akut berupa bengkak, kemerahan, panas, atau luka terbuka. Hanya ada nyeri tekan dan penurunan ruang gerak jari-jari tangan. Bisa jadi, tanda radang akut itu sudah hilang mengingat saya memeriksa kondisi pasien hampir seminggu setelah kejadian.

“Lalu Bapak berharap saya menulis kesimpulan seperti apa?” tanya saya.

“Pokoknya tulis tanda-tanda kekerasan!”

“Meskipun saya harus berbohong?”

“Lalu Ibu Dokter pikir saya berbohong?”

Saya menghela napas. Pagi ini pasti akan terjadi debat kusir, “Bapak, saya akan jelaskan, dengan catatan bapak jangan memotong omongan saya.” Pelan-pelan saya mencoba menahan diri untuk tidak terpancing. Menarik nafas dalam agar suara tidak bergetar. Meski jari-jari rasanya sudah mati rasa.

“Pertama. Saya menyayangkan bapak tidak langsung datang ke kantor polisi untuk meminta surat permintaan visum. Bapak melapor ke polisi empat hari setelah kejadian. Dimana tentunya tanda-tanda kekerasan sudah mulai menghilang.”

“Kedua. Saya menyayangkan bapak tidak segera melakukan pemeriksaan visum ke puskesmas. Pemeriksaan terhadap bapak, saya lakukan enam hari setelah kejadian. Sekali lagi, tanda objektif kekerasan sudah hilang.”

“Tangan saya sakit sekali, sehingga tidak bisa datang ke puskesmas,” sela bapak tadi.

Saya tersenyum dan memandang bapak itu dengan lekat, “Jika bapak menganggap tuntutan terhadap tindak kekerasan ini penting, maka separah apapun bapak pasti sudah melapor. Dan pada saat itu, saya yakin bapak mampu berjalan, karena yang terkena lemparan batu hanya punggung tangan bagian kiri dan tidak parah apalagi mengalami luka terbuka. Dan sekali lagi, mohon… jangan memotong omongan saya.”

Suasana hening sejenak. Mulut saya mulai kering. Kepala puskesmas memandang saya dengan wajah penuh kekhawatiran. Dan sepertinya suara saya sudah mulai bergetar.

“Ketiga. Pada saat saya memeriksa bapak, saya menjelaskan bahwa tanda-tanda kekerasan sudah hilang. Saya juga sudah menjelaskan bahwa saya tidak bisa menulis keluhan subyektif berdasarkan cerita bapak. Jika pada saat itu saya tidak melihat bengkak, kemerahan, atau meraba panas pada kulit bapak, jelas saya tidak bisa menuliskan dalam laporan. Karena saya tidak bisa berbohong. Bapak adalah orang yang beragama. Tentu paham hal ini.”

“Tapi tangan saya masih sakit. Apa Ibu tidak bisa percaya?”

“Saya percaya. Tapi sakit adalah keluhan subyektif. Dan saya tidak bisa menuliskan data subyektif pada visum. Tetapi saya telah menuliskan bahwa telah terjadi penurunan Range of Motion pada tangan Bapak. Masalah apakah polisi membuatnya sebagai bahan pertimbangan atau tidak, itu di luar kekuasaan saya.”

“Saya bisa ajukan ini ke media massa agar semua masyarakat Alor bisa tau,” nada bicara bapak itu mulai meninggi.

Wajah-wajah di ruang kantor semakin cemas. Jujur, saya jengah dan sedikit gentar mendengar kalimat bapak ini. Tetapi bagaimanapun, saya merasa bahwa tindakan saya benar, “Silakan. Saya punya saksi dan bisa mempertanggungjawabkan apa yang saya tulis.”

“Saya ini punya jabatan. Saya adalah advokat yang disumpah,” kata bapak itu dengan setengah berteriak. Aduh. Tolong. Pitch controlnya, Pak.

Tetapi tipikal pejabat di wilayah Alor memang ingin dinomorsatukan. Beberapa bahkan cenderung semaunya sendiri dan bisa berbuat nekat. Kepala saya sudah mulai mendidih, tangan mengepal. Tapi saya berusaha tetap merendahkan suara. ‘Kalo situ pejabat trus kenapa? Apa saya harus membuat laporan visum ulang? Lu gila?’ Tidak. Kalimat ini tidak terlontar keluar. Dalam hati saja. Bisa-bisa saya dituduh melakukan tindakan yang tidak menyenangkan *sigh*. Konyol rasanya jika pagi-pagi sudah adu mulut dengan seorang bapak-bapak yang gila jabatan. Gengsi saya merangkak naik, mengingatkan diri sendiri, jangan sampai merendahkan diri ke titik yang sama dengan bapak itu karena terbawa emosi.

“Saya juga punya sumpah yang harus saya pegang. Dan bapak perlu tau, saya melayani masyarakat tidak memandang status atau jabatannya,” nafas saya mulai memburu. Suhu tubuh saya mulai meningkat. Perut mulai mulas, jantung berdebar kencang seperti habis latihan kardio selama 30 menit.

Mungkin, mental blind spot bapak itu sudah terlalu luas. Dia menyangkal, merepresi dan merasionalisasi tindakannya sendiri sehingga gagal melihat kebenaran dan kenyataan. Dia berbohong pada dirinya, memosisikan dirinya sebagai korban tanpa mau mengerti dimana letak titik masalahnya. Malah berkuliah tentang pentingnya posisi pekerjaannya di Alor, menbawa-bawa jabatan dan gelar. Atau yang lebih penting bagi dirinya adalah bahwa kasus kekerasan yang dialaminya harus dimenangkan olehnya, bukan lagi benar atau tidak proses yang dilalui. Beginilah jika seseorang terlalu terfokus pada hasil dan mengabaikan proses. Ancur minaaa!

Lalu Ibu Kapus berkata, “Bapak seharusnya bisa paham, semua profesi ada sumpahnya. Saya bukan membela Ibu dokter, tapi apa yang Ibu dokter lakukan sudah benar. Apa yang Ibu dokter tulis itu sesuai yang Ibu dokter lihat. Mengenai penyelesaian masalah bapak dengan orang yang melempar batu dua bulan lalu, coba selesaikan dengan polisi.”

Setengah kesal saya melirik jam di dinding, 09.00 WITA. Debat kusir ini rasanya sudah membuang-buang waktu. Tetapi cukup berguna sebagai pengalaman. Saya pernah mendengar cerita yang lebih absurd dari ini (berhubungan dengan visum). Seorang sejawat PTT di Alor, mengalami teror dari oknum kepolisian karena keterangan yang ada di visum tidak dibuat tepat setelah kejadian perkara. Tetapi sesuai dengan tanggal datangnya surat permintaan visum et repertum (SPVR). Polisi mengatakan bahwa dokter harus menulis sesuai kejadian, bukan datangnya SPVR. Padahal, SPVR dan korban datang pada dokter beberapa hari setelah kejadian. Semua orang tahu siapa yang salah. Apalagi alasan keterlambatan pembuatan SPVR adalah printer yang rusak. Kadang-kadang sesuatu yang sebenarnya mudah untuk dimasukkan ke akal menjadi begitu sulit hanya karena keegoisan seseorang/oknum.

“Saya rasa penjelasan saya dan Ibu Kapus sudah cukup. Saya mohon maaf jika bapak tidak puas. Tapi mohon masalah ini dipahami baik-baik. Bapak adalah advokat, tentu paham tentang hukum, tentu bisa memahami hal seremeh ini. Jika sudah tidak ada yang dibicarakan, saya pamit mau ke poli. Sudah banyak pasien yang menunggu.”

Tanpa persetujuan, saya berdiri dari kursi plastik berwarna hijau, lalu menghampiri si bapak tadi dan menyalaminya, “Dan semoga tangan yang masih sakit itu cepat sembuh. Jika berkenan, silakan mampir ke poli untuk saya periksa lagi. Permisi.” Lalu saya melenggang keluar kantor dengan hati masih marah, berjalan dengan langkah yang ditegap-tegapkan ke arah poli umum.

Saya kembali mengingatkan diri sendiri dan siapapun yang membaca postingan ini, bahwa kelengkapan status dan tulis-menulis itu SANGAT penting. Sekali lagi, SANGAT PENTING. Terutama pada kasus yang rawan seperti ini, dan di lingkungan yang cenderung ‘semaunya sendiri’. Mintalah perawat atau bidan menemani kita saat pemeriksaan dan pembuatan visum et repertum agar ada saksi tentang apa yang kita periksa dan laporkan.

Dan hari Jumat, 14 Desember 2012 lalu, saya menerima permintaan visum et repertum perihal kekerasan terhadap seorang anak perempuan yang pingsan akibat ditampar dan dipukul kepalanya oleh guru olah raga di sekolahnya. Alamak. Tidak bisakah warga Alor dan sekitarnya ini berhenti menggunakan adu fisik untuk menyalurkan emosi? *no hope*

***

Kalabahi – Alor – NTT

December 15th 2012

Dec 6

06 Desember 2012

Moru diguyur hujan. Deras. Sama sekali tidak menyisakan ruang bagi suara. Hanya ada tumpahan air dari langit yang menghujam bumi. Angin pengiring hujan berusaha mengobrak-abrik segala hal yang ditemuinya. Sesekali jantungku ikut berdesir. Aku merindukan hujan, tetapi tidak dengan badai. Ini sama saja dengan rasa yang terpendam pada kekasih, dan akhirnya meringkuk sendiri karena rupanya ia datang bersama seseorang yang mendampingi

Seharusnya, suasana sendu seperti ini sanggup membuaiku dalam tidur yang nyaman. Bergumul di dalam selimut yang tipis, sekedar syarat untuk menambahkan nuansa syahdu tidur di kala hujan. Mengetik beberapa tweet hingga akhirnya tertidur sampai Ashar.

Namun sebuah pesan menerobos masuk ke ponselku. Bapak. Mengabarkan bahwa surat dan beberapa foto yang kukirim telah diterima dengan selamat. Bibirku menyunggingkan senyum. Perasaan yang merambat ke tubuhku ini susah dijabarkan. Bahwa betapa surat yang sederhana bisa meletupkan banyak hal. Rasa deg-degan, apakah surat itu sampai dengan selamat, mengira-ngira bagaimana perasaan bapak dan ibu saat membaca surat dan melihat foto-foto yang kukirimkan. Dan aku juga yakin, rasa deg-degan itu juga melompat-lompat di hati mereka ketika membuka amplop dan membaca surat yang tertulis di sana.

Menjaga romantisme, begitu kata bapak. Seringkali kutanggapi dengan, “Ah, romantis dan kere beda tipis!” Dan bapak tertawa mendengar responku sebagai tanda setuju. Mengapa memilih surat? Bukankah itu kuno sekali? Sederhana saja. Orang tuaku tidak tahu-menahu tentang internet dan sebagainya. Menerima MMS  juga tidak pernah. Selama ini aku hanya mengabari via suara. Maka aku mengirimkan beberapa surat dan foto sebagai pemuas mata dan hati orang tua bahwa anak perempuannya di rantau baik-baik saja.

Dan siang ini, hujan berhasil menari-nari di atas rinduku yang menggebu. Sudah tiga hari aku memimpikan hal yang sama. Berjalan-jalan dengan ibu dan bapak. Bertiga saja. Aku dan bapak bergantian menyetir mobil, sedangkan ibu sibuk mengupas buah untuk kami. Sesekali aku merebahkan diri di pangkuan ibu di bangku belakang saat bapak menyetir. Menikmati belaiannya di kepalaku yang tertutup jilbab. Bercerita apa saja. Atau sekedar membahas arti lagu Korea dan India yang mengalun dari dek musik.

Sehari yang lalu, aku menelepon kedua orang tuaku. Mendengar suara mereka lalu kupindai hingga masuk ke dalam mimpi. Memuaskan rindu yang justru membumbung tinggi hingga ke ubun-ubun. Bapak bercerita tentang pembangunan masjid yang hampir rampung. Dan menceritakan tentang tiga kelinci dewasa yang akhirnya dijual, menyisakan delapan anak kelinci yang sudah bisa makan sendiri tanpa susu ibunya. Ibu bercerita tentang pasien ibu bersalin yang sempat drop tekanan darahnya. Beliau sempat panik dan cemas kondisi pasiennya tidak segera membaik. Aku bisa merasakan kekhawatiran Ibu. Dalam usia yang sudah melewati setengah abad, tentu saja kondisi Ibu tidak seprima dulu. Berkali-kali aku mengingatkan untuk segera beristirahat agar tekanan darah Ibu tidak naik lagi.

Perlahan-lahan, rasa rindu menyergapku dari segala sudut. Sembilan puluh dua hari sejak pertemuan terakhir, rasanya tanganku sudah meraung-raung untuk segera merengkuhkan pelukan pada tubuh mereka. Kepalaku kembali memutar percakapan konyol kami, bersama gelas kopi atau teh yang mengepul, sepiring pisang goreng, dan acara TV yang selalu bisa dikomentari. Aku menahan tanganku untuk menekan tombol nomor rumah. Karena mendengarkan suara mereka di suasana yang sendu ini, sangat berbahaya bagi pertahananku siang ini.

From: AaPapi

Foto dan surat sudah diterima, Non. Foto-fotonya bagus.

Received: Dec 6, 12:30

To: AaPapi

Alhamdulillah suratnya sudah sampai. Tulisannya terbaca jelas tho, Pak?

Sent: Dec 6, 12:40

From: AaPapi

Jelas banget, Non. Tapi sudah mulai mirip tulisan dokter. Sudah mulai jelek.

Received: Dec 6, 13:10

Hujan deras di luar sana. Airnya merembes hingga mataku basah. Dan kini, hatiku telah habis dibanjiri rindu.

***

115 hari menjelang kepulangan

Moru – Alor – NTT

Dec 2
Senja dari desa Takpala, Alor, Nusa Tenggara Timur

Senja dari desa Takpala, Alor, Nusa Tenggara Timur

Wolang - Alor - Nusa Tenggara Timur

Wolang - Alor - Nusa Tenggara Timur

Dari pantai Moru

Dari pantai Moru

Now the sun is in the sky. And for no reason why, the sad cloud is crying itself away.

Now the sun is in the sky. And for no reason why, the sad cloud is crying itself away.

Perjalanan Awal Tahun (Tamat)

Sabtu, 17 November 2012

Saya dan yang lain bangun cukup siang. Dan tentu saja, rasanya badan ini remuk redam. Susah berdiri, susah duduk. Pantat kram, punggung kaku.

Setelah mandi, kami segera ke restoran untuk sarapan. Anin membaca lini masa Twitter. @tika_widz menanggapi tweet @Rizki__MD yang membahas menu sarapan hotel Palm. @tika_widz berkata, bahwa biasanya menu sarapan jika tidak nasi goreng, mereka menyajikan daging rusa. Wow. Kami sedikit berharap menu hari ini adalah daging rusa.

Sesampainya di restoran, rupanya Aludin sudah datang. Kondisi pamannya masih tetap sama. Membutuhkan operasi untuk memperbaiki anus dan kandung kemihnya yang dicabik gigi buaya beberapa minggu lalu.

Baiklah. Menu sarapan pagi ini adalah soto ayam ditambah telur yang hanya separuh. Mungkin emak ayam pernah menelan silet yang tertahan di pantat sehingga telurnya keluar langsung terbelah dua. Tapi soto itu lumayan enak. Saya bahkan tidak bisa membedakan antara rasanya yang benar-benar enak atau saya yang sangat kelaparan.

Di meja makan, kami membahas tentang rencana hari ini. Pokoknya, sebelum dhuhur harus sudah keluar dari Lewoleba. Beristirahat di Lewolein, kemudian lanjut ke Wairiang.

Kami berencana ke pantai Waijarang. Awalnya kami menjadwalkan berangkat ke Waijarang sekitar jam delapan pagi. Kemudian kembali ke hotel sebelum jam dua belas siang. Menurut informasi Aludin, Waijarang letaknya dekat. Hanya 3 KM. Tapi kami tidak serta merta percaya. Karena sekali lagi, orang NTT tidak pandai menghitung jarak dan waktu. Maka pagi itu juga, kami check out dari hotel, ke Waijarang, lalu pulang ke Wairiang.

Menurut Wikipedia, Waijarang merupakan salah satu tempat wisata unggulan Lembata (http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Lembata). Lokasinya tidak terlalu sulit untuk dicari. Dari Hotel Palm, bertemu pasar, maka beloklah ke kiri. Ikuti jalan. Menurut http://www.floresbangkit.com/2012/03/indahnya-pantai-wisata-waijarang-lembata/ kondisi fisik jalan menuju Waijarang sudah bagus. Harap jangan berharap banyak. Karena bagaimanapun, pantat saya masih sering dihantam-hantamkan ke bangku motor. Tetapi kali ini, orang NTT tidak salah dalam menghitung jarak. Tiga kilometer.

Namun entah kenapa, ada saja yang membuat kami mengguling-gulingkan bola mata (apa bahasa yang pas untuk rolling eyes?). Di Lewoleba, Aludin tetap menjadi pemandu kami. Dia mengaku sering ke Lewoleba, tetapi tidak pernah ke Waijarang. Beberapa kali kami bertanya pada penduduk yang ada di sana mengenai lokasi Waijarang. Semua berkata, “Teruuus…”

Sampai pada akhirnya kami bertemu dengan dua pria yang tampaknya lebih meyakinkan. “Paman, tempat piknik ada dimana?” tanya Aludin.

“Tempat piknik apa?” paman yang ditanya malah balik bertanya. Saya menjawab, “Waijarang.”

“Su lewat, Nona…”

(hening)

Setelah mengucapkan terima kasih, kami putar balik. Tetapi tetap ada sedikit kejanggalan. Karena sepertinya tidak ada tanda atau pintu masuk atau apapun yang menunjukkan tempat bernama pantai Waijarang ini.

Akhirnya kami sampai di sebuah perumahan penduduk. Desa Waijarang. Tapi pantainya masih terus ke atas. Jika perjalanan kami dijadikan kartun, maka saat ini kami berenam sudah terjengkang. Lalu lewat seekor burung gagak yang suaranya sangat menyebalkan.

Ternyata pantai Waijarang memang tidak terlalu jauh. Tetapi pedih rasanya melihat tempat rekreasi tersebut tidak terawat sama sekali. Gerbangnya hampir roboh, pantainya kotor, dan tidak ada penjaga sama sekali. Saat itu, air laut sedang surut. Sehingga tampak karang yang tidak terlalu bagus. Dibandingkan dengan pantai-pantai di Alor, Waijarang ini jauh sekali nilainya.

Tiba-tiba Dedy berkata bahwa ada kebutuhan biologis yang harus dipenuhi. Maka dia dan Aludin pergi entah kemana (mungkin menumpang di salah satu rumah penduduk). Sedangkan saya, Maretha, Rizki dan Anin tetap di Waijarang.

Iseng-iseng, saya mengirimkan foto Waijarang ke rekan residen yang pernah bertugas di Lembata. Saya beri deskripsi, “Lautnya surut. Jelek nih…”

Dan balasannya adalah, “Wah… kamu ada di tempat yang salah, Noy. Untuk dapat view yang bagus, harus naik lagi. Naik teruuus. Terus lagiii… Coba besok datang jam empat pagi biar bisa lihat sunsetnya.”

(hening)

AAAK! Kenapa baru bilang sekarang? *tendang si residen*

Ya sudahlah… Kapan-kapan ke sana lagi. Lagipula, menurut keterangan @tika_widz, laut Waijarang banyak buayanya.

Sekitar jam sepuluh pagi, Dedy dan Aludin datang dengan membawa kelapa muda. Segar! Tapi masalah bertambah. Dedy tidak jadi buang hajat, dan saya sudah tidak tahan untuk buang air kecil. Akhirnya kami sepakat menuju hotel dan menumpang buang air di sana. Kemudian jalan pulang. Saya sudah kehilangan minat mencari alas kaki yang lebih layak untuk digunakan ke acara resepsi di Wairiang. Biar sudah sandal jepit saja. Anggap saja saya ini pelancong yang tidak ada persiapan (padahal dalam hati dilema).

Kami meninggalkan Lewoleba sekitar jam setengah dua belas siang. Sekitar jam satu kami sampai di Lewolein. Beristirahat dan makan siang (tidak lupa main kartu). Nafsu bermain poker saya menghilang. Rasanya ingin rebahan sebentar saja. Rupanya saya mulai kehilangan kemampuan menghitung waktu. Karena ternyata saya terbangun pada jam setengah tiga sore. Setelah mengucapkan selamat tinggal untuk dua hari ke depan via Twitter dan status BBM, kami melanjutkan perjalanan ke Wairiang yang tidak terjamah sinyal.

Sesampai di persimpangan Balauring, Aludin mengajak kami untuk melewati jalan yang berbeda dari jalan berangkat kemarin. Lewat pesisir. Katanya, kondisi jalan di pesisir lebih baik. Jujur, saya tidak berharap ‘lebih baik’ ini adalah suatu pernyataan yang memiliki perbedaan signifikan.

Kondisi jalan memang lebih baik. Dalam artian lebih sedikit aspal yang terlepas. Namun pemandangan pesisir begitu indah. Setidaknya mata saya dimanjakan meskipun pantat dan tulang belakang sangat tersiksa.

Sekitar sejam perjalanan, kami menghadapi kerumunan manusia di sebelah mesin pengebor batu yang sangat besar dan bising. Oke. Apakah itu artinya kami harus jalan memutar? Melihat rombongan motor yang hendak lewat, kerumunan manusia itu tidak ada inisiatif untuk memberi jalan. Sama sekali. Dalam kondisi lelah dan penat, rasanya ingin meledak saja. Apalagi telinga seakan mengalami Noise Induced Hearing Loss mendengar suara gemuruh batu yang dibor.

Saya harus turun dan berjalan kaki. Karena sangat berisiko melewati jalan setapak itu berdua. Samping kanan kami adalah mesin pengebor yang mengerikan. Dan samping kiri kami adalah jurang yang langsung menghadap ke laut.

Setelah melewati jalan tersebut dengan selamat, kami melanjutkan perjalanan. Beberapa kali Aludin menawarkan untuk berhenti dan berfoto. Tetapi saya sangat ingin bertemu dengan air dan kasur. Sudah. Teruskan saja perjalanan pulang ini.

Sekitar jam setengah lima sore, kami sampai di Wairiang dengan selamat. Nafas memanas karena ditempa debu dan udara yang membakar sepanjang jalan. Tenggorokan begitu kering. Mungkin saat itu saya bisa menghabiskan seliter air putih.

Kami segera meletakkan ransel dan menuju kamar mandi, berharap ada air yang bisa digunakan untuk mandi. Percuma. Hanya cukup untuk berwudhu saja. *sigh*

Beginilah perjalanan tiga hari yang cukup panjang jika diceritakan. Di Wairiang, kegiatan kami hanya sebatas makan, mandi (jika ada air), sholat, main kartu, makan, cari sinyal untuk sekedar sms, ngobrol dengan calon pengantin perempuan (yang saking stressnya mengalami dyspepsia syndrome), main kartu, makan, mandi (jika ada air), dan sebagainya.

Senin 19 November 2012 jam 15.00 WITA, kami kembali ke Baranusa. Masih dengan kapal Bintang Diana. Kami lebih banyak istirahat dan tidur di atas kapal. Tanpa tahu bahwa malam harinya kami disiksa sakit perut dan diare yang membabi buta. Rupanya sarapan kami bermasalah. Menu resepsi di Minggu malam yang disajikan kembali membuat kami menderita Traveller’s diarhea.

Saya dan Maretha sempat was-was karena Selasa pagi kami harus kembali ke Kalabahi dengan menunggangi (lagi) Bintang Diana selama sekitar tiga jam. Tapi beruntung perut kami tidak berulah selama perjalanan. Dan lagi-lagi, kami disuguhi atraksi lumba-lumba yang begitu genit di tengah laut.

Demikian cerita perjalanan awal tahun Hijriyah yang cukup mengesankan. Jika ditanya apakah saya berniat kembali ke Lembata, jawabannya adalah, “Mungkin.” Menurut keterangan calon pengantin perempuan di Sabtu malam, bupati Lembata sedang membenahi fasilitas jalan utama untuk mempermudah akses dari daerah satu ke daerah lain. Mungkin jika kondisi jalan Lembata sudah lebih baik, mungkin jika ada kesempatan, mungkin jika teman perjalanannya menyenangkan, mungkin saya akan kembali.

(habis)

***

Kalabahi – Alor – NTT

November 23rd 2012

Perjalanan Awal Tahun (Bagian Ketiga)

Mungkin kalian mengira, perjalanan ke Lewoleba tersebut dalam rangka mengunjungi teman atau saudara. Sama sekali salah. Bahkan kami tidak tahu apa yang hendak dilakukan di Lewoleba. Nekat? Iya. Aludinpun heran dengan jiwa petualang kami yang serampangan.

Saya bertanya tentang Lembata pada salah satu rekan residen yang pernah bertugas di RSUD Lewoleba. Dia hanya menjawab, “Ya kota kecil, Noy… Ndak ada apa-apanya. Mungkin hanya pantai Waijarang.” Lalu dia mengirimkan foto pantai Waijarang. Dan menurut saya, keindahannya belum sebanding dengan Kepa (tsaaah…). Tapi tetap saja, rasa penasaran itu ada. Apalagi di forum dokter PTT, Lembata merupakan salah satu kabupaten favorit.

Sekitar jam delapan malam, kami melanjutkan perjalanan setelah ban motor ditambal dan biang keladi kebocoran sudah ditemukan. Ketiga pengemudi mempercepat laju motor mereka. Saya tidak bisa lagi mendeskripsikan bagaimana rasanya ngebut di jalanan yang penuh ranjau. Ditambah kondisi perut yang belum sepenuhnya membaik meski telah muntah tiga kali. Serta kepala yang pening di segala arah. Sebelumnya saya mengira, ini salah satu bagian dari Pre Menstrual Syndrome. Tetapi rasa-rasanya tidak pernah gejala PMS yang saya alami sebelumnya tidak pernah seburuk ini.

Aludin menanyakan perihal mabuk darat yang saya alami, “Kakak ada sakit? Tidak biasa dengan jalan seperti ini?”

Sebenarnya jika dibilang tidak biasa, saya pernah pusling ke Helangdohi yang sama parahnya. Menanjaki gunung berbatu yang jika serong sedikit saja, maka ambulans sudah terjun ke dasar jurang. Tiba-tiba saya teringat pada segelas kopi yang saya sesap tepat sebelum berangkat ke Wairiang. Sial. Setelah diombang-ambing di dalam kapal selama hampir tiga jam, saya nekat meminum kopi dan kembali menghadapi perjalanan yang tidak menyenangkan ini. Iya. Bodoh sekali untuk orang yang sering menginformasikan pada pasien untuk mengurangi kopi dan makanan asam serta pedas pada penderita dyspepsia syndrome.

Di tengah deru motor yang memecah keheningan hutan, Aludin berkata, “Tidak sangka kita masuk Lewoleba malam sekali, Kakak.”

Kepala saya melihar sekitar. Gelap. Hanya ada pepohonan yang rimbun. Seperti hutan. Inikah Lewoleba?

Saya tidak segera menanggapi pernyataan Aludin tadi. Isi kepala saya masih berdebat tentang apakah Lewoleba yang merupakan ibukota di Lembata memang sedemikian ‘terpencil’.

Dan pertanyaan saya terjawab saat melihat RSUD Lewoleba di sebelah kiri saya. Oke. Benar ini Lewoleba. Dan untuk tempat yang disebut kota, Lewoleba ini… mengenaskan. Jalan di depan RSUD sama parahnya dengan jalan yang kami lewati sebelumnya. Sepi. Jauh dari peradaban. Kecuali kantor dinas bupati yang ada di sebelahnya.

Sebelumnya, saya pernah bertanya pada rekan residen tadi perihal penginapan di Lewoleba. Dia menyarankan Hotel Palm saja. Sekitar tiga ratus ribu per malam. Bah. Mahal. Lalu saya bertanya pada dokter spesialis interna yang suaminya bekerja di Lembata. Beliau merekomendasikan hotel yang sama. Dan ketika melihat kondisi Lewoleba, sepertinya kami sepakat untuk menginap di hotel tersebut. Ketakutan kami hanya satu. Jika salah pilih penginapan, maka racauan kami akan semakin panjang.

Saya meminta Aludin untuk membawa rombongan ke rumah makan. Mana saja. Kami sudah lelah dan kelaparan. Maka sampailah kami di sebuah rumah makan sederhana dengan menu rumahan.

Mungkin saya belum pernah bercerita tentang porsi makan masyarakat NTT. Di Alor, porsi nasi untuk satu orang itu sama dengan dua porsi nasi orang di Jawa. Banyak sekali. Tetapi di Lewoleba, nasi yang mereka suguhkan justru dua kali lebih banyak dari porsi nasi orang Alor. Bisa dibayangkan? Maka jadilah perut saya menjadi lebih mulas melihat porsi nasi yang menggunung. Sepertinya pada malam itu, saya hanya bisa menghabiskan sekitar delapan hingga sepuluh suapan saja. Ditambah teh hangat. Sudah. 

Seusai makan, saya bertanya pada nona penjaga warung, “Hotel Palm itu ada di mana, Nona?”

“Aduh, hotel itu jauh sekali, Kakak. Pasar masih terus. Hotel itu memang bagus. Tapi letaknya di hutan.”

(hening)

“Ehm… kira-kira berapa menit kalo dari sini?” tanya saya lagi.

“Yaaa… lima menit,” jawab nona tadi.

Lima menit. Sepertinya tidak terlalu jauh. Tapi lagi-lagi kami lupa bahwa masyarakat NTT sangat lemah dalam menghitung jarak dan waktu.

Setelah meninggalkan warung makan tadi, Aludin memimpin rombongan motor menuju Hotel Palm. Awalnya saya tidak berfirasat saat kami melewati daerah yang bisa dibilang ‘kota’. Struktur jalan dan bangunan lebih baik dari sebelumnya. Namun setelah Aludin membelokkan motor ke kiri, pandangan saya hanya bisa menangkap gelap. Kondisi jalan kembali memrihatinkan. Lalu hanya ada pepohonan di sekitar. Dan hutan (lagi).

“Aludin, ini jalan yang benar ko?” tanya saya. Tentu ini jalan yang benar. Jika tidak, mungkin kami langsung masuk neraka.

“Benar, Kakak… Pasar masih jauh lagi.”

LHAAAR!

Sekali lagi. Masyarakat NTT sangat lemah dalam menghitung jarak dan waktu.

Rizki sempat menanyakan hal yang sama. Dengan ragu yang sama besarnya, saya menjawab bahwa memang inilah jalan menuju Hotel Palm.

Sekitar lima belas menit perjalanan, akhirnya pasar sudah ditemukan. Ada persimpangan. Aludin bertanya kepada orang-orang yang ada di sana. Hotel Palm sudah dekat.

Dan akhirnya, sekitar jam 21.30 WITA, kami mendarat di Hotel Palm. Ternyata semalamnya Rp 250.000,00/kamar. Bisa memilih single bed king size atau double bed. AC, televisi, dan sarapan. Saya rasa hotel ini cukup bagus (saya memberi 3½ bintang saja karena lokasinya yang cukup menyiksa).

Sesampainya di kamar, saya, Maretha dan Anin bergantian membersihkan diri. Bergosip sebentar, lalu kami terlelap hingga pagi.

Aludin? Dia menginap di RSUD Lewoleba, sekaligus menjenguk pamannya yang dirawat di ICU karena digigit buaya.

(bersambung)

***

Moru – Alor – NTT

November 22nd 2012

Kendaraan perang untuk pusling ♥

Kendaraan perang untuk pusling ♥

Look what you’ve done… to my teeth [mama dukun setelah mengunyah sirih pinang]

Look what you’ve done… to my teeth [mama dukun setelah mengunyah sirih pinang]

Sirih pinang. Anyone?

Sirih pinang. Anyone?

Anak bule KW nih… [masih di Hopter]

Anak bule KW nih… [masih di Hopter]

Let the sky fall, when it crumbles. We will stand tall and face it all together ♥ [Hopter, Kec. Abad, Alor Barat Daya]

Let the sky fall, when it crumbles. We will stand tall and face it all together ♥ [Hopter, Kec. Abad, Alor Barat Daya]

Aku ndak pake celanaaa! [Probur, Kec. Abad, Alor Barat Daya]

Aku ndak pake celanaaa! [Probur, Kec. Abad, Alor Barat Daya]

The prayer…

The prayer…

View My Stats